
Ngawi (beritajatim.com) – Krisis air bersih akibat kemarau panjang masih membayangi sejumlah wilayah di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Meski hujan mulai turun di beberapa kawasan, sebanyak 1.789 jiwa yang tersebar di 23 desa pada tujuh kecamatan masih terdampak kekeringan. Warga pun masih bergantung pada bantuan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut terlihat di Desa Pandean, Kecamatan Karanganyar. Puluhan warga berbondong-bondong mendatangi bak penampungan air untuk mendapatkan bantuan air bersih yang disalurkan anggota DPR RI, Budi Sulistyono atau Kanang, pada Minggu (1/11/2026) siang.
Warga datang dengan membawa berbagai wadah penampung air, mulai dari galon bekas air mineral hingga jeriken. Mereka mengantre di sekitar lokasi penampungan untuk mendapatkan bagian air yang dibagikan. Sebanyak 10 ribu liter air yang didistribusikan di desa tersebut habis dalam waktu singkat karena tingginya kebutuhan masyarakat.
Air bantuan itu langsung dimanfaatkan warga untuk berbagai keperluan rumah tangga, seperti memasak, mandi, dan memenuhi kebutuhan minum ternak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan mendesak bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Kepala Seksi Kedaruratan Kantor BPBD Kabupaten Ngawi, Partoyo, mengatakan hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah belum cukup untuk mengakhiri krisis air bersih. Berdasarkan pendataan hingga Selasa (4/11/2026), masih ada 1.789 jiwa di 23 desa yang mengalami kesulitan mendapatkan air.
Wilayah terdampak tersebar di Kecamatan Karanganyar, Pitu, Ngawi, Bringin, Kasreman, Padas, dan Karangjati. Kekeringan tersebut merupakan dampak kemarau berkepanjangan yang menyebabkan sumber-sumber air milik warga, terutama sumur rumah tangga, mengalami penurunan debit hingga mengering.
“Meski sejumlah wilayah sudah hujan tapi krisis air bersih di Ngawi masih berlangsung hujan sudah dua kali tapi sumur warga masih mengering,” ujar Partoyo.
Namun, besarnya kebutuhan air membuat bantuan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan kesulitan warga. Di sejumlah desa, masyarakat masih harus menyesuaikan penggunaan air dengan jumlah bantuan yang diterima. Distribusi air menjadi tumpuan utama selama sumber air alternatif belum kembali tersedia.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber