:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/1Mitigasixx.jpg)
TRIBUNJABAR.ID, SURABAYA, JAWA TIMUR — Menghadapi potensi ancaman gempa megathrust di kawasan Jawa Timur, pendekatan tunggal tidak akan pernah cukup. Menyadari hal tersebut, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menggelar Sosialisasi Mitigasi Bencana Megathrust di Kantor MUI Jatim, Surabaya, pada Rabu (28/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan 56 takmir masjid dan musala dari berbagai wilayah di Jawa Timur sebagai peserta utama, memadukan edukasi teori manajemen krisis dengan simulasi pemadaman dan penyelamatan diri secara praktis.
Mengapa kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci utama? Bencana tidak bisa dihadapi secara parsial. Kolaborasi antara lembaga kemanusiaan, otoritas keagamaan, dan instansi pemerintah menjadi kunci strategis dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat akar rumput karena beberapa alasan mendasar.
MUI Jatim sebagai Penggerak Umat: MUI memiliki legitimasi struktural dan pengaruh moral yang kuat untuk menggerakkan masyarakat (community mobilization). Lewat jejaring takmir, pesan kesiapsiagaan dapat ditransmisikan secara masif dan efektif hingga ke level lingkungan terkecil.
BPBD Jatim sebagai Otoritas dan Pakar Kebencanaan: BPBD memberikan legitimasi teknis, peta risiko wilayah, serta standar operasional mitigasi yang akurat. BPBD Jatim mencatat terdapat 14 jenis ancaman bencana di wilayah ini. Data menunjukkan bahwa 35 persen keberhasilan penyelamatan jiwa saat bencana ditentukan oleh pengetahuan dan kapasitas kesiapsiagaan mandiri yang dimiliki oleh warga itu sendiri.
Sebagai eksekutor lapangan, DMC Dompet Dhuafa menjembatani materi teknis dan keagamaan menjadi aksi mitigasi berbasis masyarakat (Community-Based Disaster Risk Reduction), salah satunya melalui konsep Masjid Tangguh Bencana.
“Sosialisasi ini kami kolaborasikan bersama MUI Jatim yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan umat dan BPBD Jatim untuk menguatkan pesan kebencanaan. Melibatkan para takmir masjid dan musala sebagai peserta bertujuan agar mereka memiliki kapasitas dan kesiapsiagaan dalam merespons potensi krisis,” tegas Direktur Program Sosial, Kemanusiaan, dan Dakwah Dompet Dhuafa, Ahmad Shonhaji.
Potensi gempa megathrust di Jawa Timur bukan sekadar isu spekulatif, melainkan ancaman nyata yang membayangi sejumlah kawasan padat penduduk. Ketua Komisi Pengembangan Dana Umat dan Filantropi MUI Jawa Timur, Miftah Jauhari, menggarisbawahi pentingnya pemahaman teknis mitigasi bagi para pengelola tempat ibadah.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber