RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Nama Samin Surosentiko menjadi bagian penting dalam sejarah perlawanan masyarakat Jawa terhadap penjajahan Belanda. Sosok yang dikenal sebagai pelopor ajaran Saminisme ini tidak hanya meninggalkan catatan perjuangan melawan kolonialisme, tetapi juga mewariskan nilai-nilai kehidupan yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Pengaruhnya meluas hingga Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Di kedua wilayah tersebut, ajaran Samin berkembang menjadi identitas sosial dan budaya yang dikenal melalui komunitas Sedulur Sikep atau Wong Samin.

Lantas, siapa sebenarnya Samin Surosentiko dan bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat Bojonegoro dan Blora?

Samin Surosentiko atau Ki Samin Surosentiko merupakan tokoh pergerakan masyarakat Jawa yang hidup pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Dalam sejumlah literatur, ia juga dikenal dengan nama Raden Kohar.

Sekitar 1890, Samin mulai menyebarkan ajarannya di Desa Klopoduwur, wilayah Blora, Jawa Tengah. Gerakannya muncul sebagai respons terhadap kebijakan kolonial Belanda yang dianggap memberatkan masyarakat kecil, khususnya petani.

Pada masa itu, masyarakat menghadapi berbagai tekanan, mulai dari pungutan pajak tanah hingga pembatasan pemanfaatan sumber daya alam. Kondisi tersebut mendorong Samin mengajak masyarakat mempertahankan hak dan kemandirian mereka.

Penelitian Muhammad Khoiruddin, Danan Tricahyono, dan Rinda Handayani yang diterbitkan dalam jurnal Masyarakat dan Budaya BRIN pada 2023 menjelaskan bahwa gerakan Samin memiliki latar belakang sosial, ekonomi, dan spiritual yang berkaitan dengan ketidakpuasan terhadap kebijakan kolonial.

Berbeda dengan sejumlah tokoh perlawanan lainnya, Samin Surosentiko tidak mengutamakan perjuangan bersenjata. Ia mengembangkan perlawanan sosial melalui penolakan terhadap aturan pemerintah kolonial.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *