Polres Malang menyiagakan 800 personel untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kesiapan tersebut dilakukan menyusul sejumlah kejadian bencana yang mulai terjadi akibat perubahan cuaca, seperti tanah longsor hingga kerusakan rumah dan sekolah akibat angin kencang.

Kapolres Malang AKBP Rulian Syauri mengatakan, perubahan musim dari kondisi kering menuju musim hujan perlu diantisipasi bersama. Sebab, kondisi geografis Kabupaten Malang yang terdiri dari wilayah pegunungan, perbukitan, dataran rendah, hingga kawasan pesisir memiliki potensi kerawanan bencana yang beragam.

Dia menjelaskan, sebanyak 800 personel Polres Malang disiapkan dengan sistem rayonisasi. Personel dibagi dalam wilayah utara, selatan, barat, dan timur Kabupaten Malang agar penanganan bencana dapat dilakukan lebih cepat dengan mengerahkan petugas terdekat dari lokasi kejadian.

Selain kesiapan personel, kelengkapan peralatan penanggulangan bencana juga menjadi perhatian. Mulai dari kendaraan operasional, perahu karet, perlengkapan Search and Rescue (SAR), alat komunikasi, peralatan medis hingga kebutuhan logistik dipastikan siap digunakan sewaktu-waktu ketika terjadi bencana.

Rulian juga meminta jajarannya meningkatkan patroli di kawasan rawan bencana, memantau perkembangan cuaca, serta berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk menyiapkan jalur evakuasi dan lokasi pengungsian. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat yang berada di wilayah rawan dapat segera mendapatkan bantuan dan perlindungan apabila terjadi bencana.

Upaya kesiapsiagaan ini juga sejalan dengan semangat Polisi Bersama Masyarakat yang ditekankan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, serta program Jogo Omah Kapolda Jatim Irjen Dekananto Eko Purwono.

Irjen Dekananto menekankan agar seluruh instansi menanggalkan ego sektoral dan mengedepankan sinergi dalam penanganan bencana. Koordinasi dan komunikasi antarlembaga dinilai menjadi kunci agar seluruh unsur dapat bergerak cepat, tepat, dan terkoordinasi demi keselamatan masyarakat yang terdampak.

“Yang paling utama adalah keselamatan masyarakat. Ketika terjadi bencana, seluruh unsur harus bergerak cepat dan tepat. Evakuasi juga harus memprioritaskan kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas,” tegasnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *