
Prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 515/Ugra Tapa Yudha (UTY) Kostrad bersama pasukan elite Indian Army dari Batalyon 12 Para Special Forces (SF) mengasah taktik pertempuran hutan dalam Latihan Bersama (Latma) Garuda Shakti 2026. Salah satu materi krusial yang dilatihkan di Hutan Pakel, Banyuwangi, Jawa Timur, yakni Tactical Combat Casualty Care (TCCC) atau penanganan medis darurat di medan tempur.
Materi TCCC menjadi prioritas mengingat tingginya risiko fatalitas prajurit di daerah operasi akibat keterlambatan pertolongan pertama. Sebab, prajurit tidak hanya menghadapi ancaman tembakan musuh, tetapi juga risiko meninggal dunia akibat kesalahan penanganan luka dan pendarahan.
Komandan Yonif (Danyonif) 515/UTY Kostrad Letkol Inf Edy Pramono mengatakan, simulasi pertempuran hutan tersebut berlangsung selama tiga hari tiga malam di Daerah Latihan Pakel Kompleks. Latihan intensif itu dirancang menyerupai kondisi medan operasi sebenarnya.
Edy menjelaskan, banyak kasus prajurit gugur di lapangan bukan karena luka tembak yang langsung mengenai organ vital, melainkan akibat kesalahan penanganan awal dan pendarahan hebat.
“Kadang prajurit tertembak di paha, di tangan, di bahu, meninggal ini karena kesalahan dalam penanganan awal, kemudian keterlambatan dalam melaksanakan evakuasi medis. Oleh karena itu, materi TCCC sangat penting untuk selalu kita latihkan supaya pada saat terjadi korban di pihak kita sendiri, prajurit kita menangani dengan tepat dan cepat untuk meminimalkan risiko baik berupa cacat permanen ataupun kematian,” tegasnya, Jumat (6/11/2026).
Selama tiga hari pembinaan taktis di Hutan Pakel, prajurit Yonif 515 Kostrad dan Batalyon 12 Para SF India menjalani serangkaian materi pertempuran yang terintegrasi. Latihan meliputi teknik patroli hutan, tracking atau pelacakan musuh, penanggulangan kontak tembak (contact drill), pertolongan medis lapangan (TCCC), evakuasi medis darurat, hingga simulasi penyergapan sasaran melalui infiltrasi udara.
Sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) juga dikerahkan dalam latihan tersebut. Senjata ringan organik infanteri digunakan bersama amunisi tajam untuk latihan menembak penembak runduk (sniper), serta amunisi hampa untuk kebutuhan simulasi taktis pertempuran.
Selain itu, latihan mobil udara (mobud) didukung helikopter jenis Bell. Helikopter tersebut digunakan untuk melatih teknik penembusan cepat atau fast roping.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber