
Aliansi Suroboyo Bergerak (ASAB) menyiapkan aksi damai bertajuk Suroboyo Wani di Taman Apsari, Surabaya, Minggu sore, 8 November 2026.
Aksi tersebut dilatarbelakangi sorotan terhadap penanganan karhutla dan bencana alam, serta kenaikan harga kebutuhan pokok.
ASAB menyampaikan lima tuntutan, mulai dari desakan agar Prabowo-Gibran mundur, penetapan karhutla sebagai bencana nasional, hingga penghentian program yang dinilai boros anggaran.
Aliansi juga menuntut perbaikan tata kelola pemerintahan serta penghentian represi dan perluasan peran militer di ranah sipil.
Surabaya (beritajatim.com) – Aliansi Suroboyo Bergerak (ASAB) menyiapkan aksi damai bertajuk Suroboyo Wani di Taman Apsari, Surabaya, Minggu sore (8/11/2026). Aksi tersebut membawa sejumlah tuntutan terhadap pemerintah, mulai dari desakan agar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur hingga penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional.
Aksi ini dilatarbelakangi penilaian ASAB terhadap ketidakberdayaan pemerintah dalam menanggulangi karhutla dan menangani bencana alam. Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi tekanan ekonomi akibat harga kebutuhan pokok yang terus meningkat.
Kegiatan bertajuk Suroboyo Wani tersebut rencananya diisi dengan pertunjukan seni atau performance art, mimbar bebas, serta instalasi seni. Warga juga diajak menyampaikan aspirasi secara damai melalui sehelai kain putih panjang yang menjadi simbol harapan bersama untuk perubahan yang lebih baik.
Koordinator Umum ASAB, Kardono S. Rakhmadi, menyampaikan lima tuntutan utama yang mencerminkan aspirasi aliansi terhadap berbagai persoalan yang dinilai mendasar bagi kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber