
Prof. Dr. Martadi Ketua Dewan Pendidikan Kota Surabaya menegaskan, secara regulasi tidak ada kebijakan yang mengharuskan seluruh siswa otomatis naik kelas. Menurutnya, selama ini muncul kecenderungan sekolah maupun orang tua sama-sama menginginkan siswa terus naik kelas.
“Sebenarnya kalau kita cermati di banyak regulasi, tidak ada pernah satu pun kebijakan yang mengatakan otomatis anak itu naik kelas. Kan tidak ada,” kata Martadi saat mengisi program talkshow Semanggi Suroboyo di Radio Suara Surabaya, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, praktik seluruh siswa harus naik sekolah ditengarai dua hal. Pertama sekolah khawatir dianggap gagal jika ada siswa tinggal kelas. Kedua, orang tua juga tidak ingin anaknya tertinggal.
“Karena tadi, sekolah merasa bahwa kalau anak tidak naik dianggap gagal sekolah itu. Nah nanti kemudian orang menjadi enggak berminat menyekolahkan di tempatnya. Jadi itu kepentingan untuk branding sekolah. Nah orang tua juga maunya anak harus naik terus karena kalau enggak naik nanti orang tuanya yang (dikira) anaknya enggak bagus
Martadi mengatakan, ketidaknaikan kelas dalam kondisi tertentu justru harus dilihat sebagai langkah mitigasi agar siswa tidak mengalami akumulasi kesenjangan belajar atau learning gap.
“Anak ini kan ada standar dalam kurikulum. Untuk naik satu level, dia harus minimum terpenuhi kemampuan itu. Kalau anak ini belum mencapai minimum, dia harus mendapatkan materi di atasnya, dia pasti menjadi beban baru. Dia bisa frustrasi ketika di kelas berikutnya,” jelasnya.


Karena itu, kemampuan siswa harus terdeteksi jauh sebelum keputusan kenaikan kelas dilakukan. Dunia pendidikan, menurutnya juga harus melakukan mitigasi di awal supaya bisa mengetahui kemampuan anak.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber