UKMP Universitas Jember, Merupakan Unit Kegiatan Mahasiswa yang fokus dalam permasalahan kependudukan.

Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah penduduk mencapai 42,38 juta jiwa dan salah satu rumah ODHA terbesar di Indonesia. Persoalan tersebut tidak hanya menjangkau urusan kesehatan saja. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Jawa Timur 2025, jumlah ODHA yang hidup di Jawa Timur mencapai 65.238 jiwa, tertinggi secara data nasional. Pada Januari-Maret 2025 saja tercatat kenaikan kasus sebanyak 2.599 laporan (Falakki, 2026).

Obat antiretroviral (ARV) disediakan pemerintah secara gratis (Devi, 2025). Namun obat tersebut belum tentu menjangkau dan dikonsumsi selalu oleh pasien. Anggota DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati menekankan bahwa ODHA tidak mengalami permasalah kesehatan saja, tetapi juga permasalahan sosial, pendidikan, dan ketahanan keluarga (Falakki, 2026)

Perkotaan di Jawa Timur mempunyai 3 lapis hambatan yang dihadapi ODHA yaitu akses layanan, beban sosio-ekonomi, dan stigma. Ibu Kota provinsi Jawa Timur sendiri yaitu Surabaya merupakan kota dengan kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Timur (Hanifah & Kriswibowo, 2023). Penanganan HIV/AIDS melibatkan banyak pihak yaitu dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, ODHA, dan LSM.

Penanganan yang dilakukan seperti terapi ARV, perawatan di rumah, pemantauan infeksi oportunistik, pemberian gizi tambahan tes viral load, dan pendampingan (Hanifah & Kriswibowo, 2023). Namun layanan yang tertulis tidak selalu terasa sama pada pasien. Ada tiga bagian yang membahas hambatan yang muncul. Pertama yaitu akses layanan ARV, hal ini bukan hanya soal ada atau tidaknya fasilitas, tetapi juga seberapa mudah ODHA untuk mendapatkannya. Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Hikmah Bafaqih, menyebut ARV yang biasanya diberikan untuk sebulan penuh kini sering menjadi setiap minggu. Menurutnya, datang ke puskesmas bagi ODHA merupakan sebuah tantangan tersendiri, dimana pemberian obat untuk jangka yang lebih panjang dinilai lebih membantu ODHA. Hal ini juga bisa dilakukan terhadap pemberian terapi suntik setiap enam bulan yang akan meringankan ODHA secara medis, mental, dan ekonomi (Devi, 2025). Hal ini sejalan dengan yang disuarakan DPRD Jawa Timur yang mendorong perluasan akses skrining, konseling, dan pengobatan agar masyarakat mendapatkan layanan tanpa rasa takut (Falakki, 2026).

Lalu yang kedua yaitu tekanan ekonomi, dalam penelitian pada kelompok dukungan sebaya di Jombang Care Center, terdapat 45,5% dari 55 narasumber ODHA yang berpenghasilan di bawah 1 juta per bulanya (Kurniyanti & Daramatasia, 2021). Pada lingkungan sosial, banyak ODHA yang dipecat dari pekerjaan, dikucilkan keluarga, bahkan takut untuk datang ke layanan kesehatan. Negara perlu memenuhi hak dasar ODHA seperti pendidikan, kesehatan, pekerjaan, sampai lingkungan yang layak (Devi, 2025). Bagi ODHA yang berpenghasilan rendah, kehilangan pekerjaan dan dukungan dari keluarga dapat memperburuk kondisi mental.

Yang terakhir yaitu stigma dimana hal ini berhubungan dengan kekonsistenan ODHA dalam mengosumsi obat. Di Jombang, stigma diri berhubungan secara signifikan dengan kekonsistenan meminum ARV dan 56,4% responden yang minum secara konsisten (Kurniyanti & Daramatasia, 2021). Peneliti menyarankan menerapkan strategi koping yang berfokus pada masalah seperti bergabung ke komunitas dukungan, membuka status HIV kepada orang yang tepat, dan konseling. Di Surabaya sendiri juga terdapat stigma masyarakt terhadap ODHA yang memyebabkan ketidakpatuhan pasien dalam pengobatan yaitu stigma terhadap diri sendiri. (Hanifah & Kriswibowo, 2023).

Ketiga hambatan tersebut tidak berdiri sendiri. ODHA yang sering ke puskesmaa harus mengeluarkan biaya, padahal penghasilannya terbatas. Rasa takut dikucilkan masyarakat atau dipecat dapat menyebabkan ODHA enggan datang ke layanan medis dan hal ini menganggu kekonsistenan yang harus dilakukan. (Devi, 2025). Akibatnya, mengatasi 1 lapis masalah saja tidk cukup. Obat gratis tidak membantu ODHA yang takut ke layanan medis dan edukasi anti-stigma juga tidak membantu pasien yang sulit menjangkau fasilitas.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *