/data/photo/2026/10/21/6ad895ffea1f5.jpeg)
KOMPAS.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi menggelar forum musyawarah bertajuk Rembug Santri di Aula Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), Selasa (20/10/2026).
Forum tersebut merupakan bagian dari upaya Pemkab Banyuwangi menghadirkan program pembangunan yang inklusif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam setiap pengambilan kebijakan.
Kali ini, Pemkab Banyuwangi mengajak para santri untuk menyampaikan gagasan, kebutuhan, serta harapan mereka secara langsung kepada pemerintah daerah (pemda) sebagai bahan penyusunan kebijakan dan program pembangunan ke depan.
Kegiatan tersebut menyasar para santri mengingat belum banyak santri yang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensi secara luas. Jumlah santri yang mampu meniti karier di bidang strategis pun masih terbatas.
“Lewat forum ini, kami berikan ruang kepada para santri untuk speak up, mengungkapkan uneg-uneg, serta harapan mereka, sehingga pemda tahu apa yang sebenarnya menjadi kendala untuk kemudian kita carikan solusinya,” ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (21/10/2026).
Ia berharap, forum yang baru pertama kali digelar itu dapat menjembatani aspirasi santri dan para pemangku kepentingan, sekaligus mendorong langkah konkret untuk memperluas peluang karier dan pengembangan diri bagi lulusan pesantren.
Rembug Santri diikuti oleh 50 santri dari 15 pondok pesantren (ponpes) di Banyuwangi. Mereka berdiskusi tentang sejumlah isu sosial, mulai dari fenomena “sound horeg” dan bahaya narkoba, bullying dan kekerasan dalam ponpes, serta harapan tentang sosok santri ideal di masa depan.
Pada kesempatan tersebut, santri Pondok Pesantren (Ponpes) Adz-Dzikra, Elsya Putri Natalia Saputro, yang tengah menempuh pendidikan tinggi di Universitas Cordoba Banyuwangi, mengusulkan pendampingan soft skill berbasis digital untuk membantu santri mengembangkan kompetensi di era digital.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber