
Bojonegoro (beritajatim.com) – Ribuan warga memadati Alun-alun Bojonegoro untuk menyaksikan Festival Sandur dalam rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349, Sabtu (24/10/2026) malam.
Kesenian tradisional yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) tersebut menjadi daya tarik dalam gelaran Bojonegoro Bahagia Car Free Night.
Dalam festival tersebut, grup Sandur Sedhet Srepet asal Kota Bojonegoro tampil membawakan lakon Lemak Ninggal Warah. Pertunjukan ini menyuguhkan perpaduan gerak, dialog, dan humor yang menghibur sekaligus menyampaikan pesan kehidupan kepada penonton.
Ketua Grup Sandur Sedhet Srepet, Okky Dwi Cahyo, menjelaskan lakon tersebut mengandung filosofi tentang kehidupan manusia dan asal-usulnya. “Filosofinya, semua yang hidup di dunia ini akan kembali ke tanah,” ujar Okky.
Penampilan Cawik, Pethak, Balong, dan Tangsil dengan gerakan beksan mundur yang menjadi ciri khas Sandur mengundang gelak tawa penonton. Suasana pertunjukan semakin meriah dengan tepuk tangan warga yang mengikuti jalannya cerita hingga akhir.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengatakan, Festival Sandur menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam merawat tradisi dan menjaga kesenian lokal sebagai bagian dari identitas Bojonegoro.
Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan upaya membangun generasi muda yang mampu bersaing dan beradaptasi dengan perubahan zaman. “Harapannya membangun generasi yang punya daya saing dan bertransformasi. Di momen Hari Jadi ke-349, Kabupaten Bojonegoro tetap adem, lebih baik, dan membanggakan,” ucap Setyo Wahono.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Lukiswati, mewakili Kepala Disbudpar Elsadeba Agustina menambahkan, konsep Bojonegoro Bahagia Car Free Night menjadi pendekatan baru dalam menghadirkan hiburan sekaligus ruang publik bagi masyarakat.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber