
JOMBANG, Sudutkota.id – Gelaran Jombang Fest 2026 di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, resmi berakhir pada Sabtu (24/10/2026).
Namun, di balik kemeriahan acara yang berlangsung hampir sebulan tersebut, muncul kritik dari kalangan seniman dan sorotan terhadap kondisi ratusan warga yang masih mengalami krisis air bersih di Kecamatan Plandaan.
Jombang Fest 2026 yang digelar sejak 2 Oktober itu menghadirkan berbagai kegiatan seni, budaya, olahraga, religi, hingga pameran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kegiatan tahunan tersebut juga menggunakan anggaran dari APBD Kabupaten Jombang yang nilainya mencapai miliaran rupiah.
Di tengah kemeriahan acara, sejumlah pelukis yang tergabung dalam Komunitas Pelukis Jombang (KOPIJO) justru memilih membongkar pameran mereka lebih awal. Keputusan itu diambil sebagai bentuk protes terhadap penataan lokasi pameran lukisan bertajuk Lorong Waktu yang dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal.
Sementara itu, sekitar 150 kepala keluarga atau kurang lebih 700 jiwa di Dusun Brangkal, Desa Jiporapah, Kecamatan Plandaan, masih kesulitan mendapatkan air bersih.
Sejak awal Oktober 2026, sumur warga mengering, sedangkan fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dibangun pada 2025 belum dapat dimanfaatkan karena airnya terasa asin.
Pameran lukisan Lorong Waktu semula dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 20 hingga 24 Oktober 2026, sebagai bagian dari rangkaian Jombang Fest 2026.
Namun, pada Selasa (20/10/2026), sejumlah anggota KOPIJO memutuskan membongkar dan mengemas kembali karya mereka. Para pelukis kecewa karena lokasi pameran dinilai tidak representatif dan penataan karya justru berada di belakang deretan pedagang kaki lima (PKL).
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber