
Komunitas tunanetra mengeluhkan trotoar dekat Stasiun Surabaya Gubeng lama karena tiang pembatas menghalangi jalur pemandu dan menyebabkan Alfian Andhika menabrak tiang.
Guiding block di lokasi disebut terlalu kecil dan berwarna hitam, sementara sejumlah trotoar lain dilaporkan memiliki ubin mengelupas, tidak standar, atau berukuran kecil.
Pertuni Jatim meminta Pemkot Surabaya mengevaluasi penempatan tiang dan jalur pemandu serta melibatkan penyandang disabilitas dalam perencanaan, meski transportasi publik dinilai cukup ramah.
Surabaya, IDN Times – Komunitas disabilitas tunanetra mengeluhkan fasilitas umum (fasum) trotoar di Kota Surabaya yang kurang ramah terhadap tunanetra. Keluhan itu datang dari Plt Ketua DPD Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jawa Timur, Alfian Andhika.
Saat itu, ia berjalan dari Stasiun Surabaya Gubeng lama menuju rumah makan yang tak jauh dari tempat tersebut. Ketika berjalan di trotoar mengikuti ubin pemandu, tiba-tiba perutnya tertabrak tiang pembatas.
“Ada tiang lain yang posisinya melintang dan mengenai perut. Sayangnya, yang satu ini nggak sempat terekam. Walah, niat budal sarapan romantis karo bojo, kok malah dada karo weteng dikongkon kenalan dhisik karo tiang! 😂 Padahal, seingat saya, dulu nggak ada tiang melintang seperti ini. Persoalan serupa juga pernah terjadi dan sempat diperbaiki pada era Bu Risma. Lha kok sekarang muncul persoalan yang sama lagi? Kalau begini terus, apa artinya perbaikan yang dulu, Rek?,” tulis Alfian melalui akun Threads-nya.
Tak cuma itu, Alfian juga mendapat informasi bahwa guiding block atau jalur pemandu di lokasi tersebut dinilai terlalu kecil dan berwarna hitam. Kondisi dan kesesuaiannya dengan standar aksesibilitas tentu perlu diperiksa lebih lanjut.
“Bagi kami yang tunanetra, jalur pemandu di trotoar itu membantu kami berjalan secara mandiri. Kalau jalurnya tidak sesuai atau justru terhalang tiang, jadinya ya begini, bawah aman, atas kena,” kata dia.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber