
“Alhamdulillah, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadiran Allah SWT, saat ini kita bisa bersilaturrahmi dalam kegiatan Malam Kemilau Madura dengan tema “Simponi Budaya Pamekasan”, kata Bupati Pamekasan, K.H Kholilurrahman mengawali sambutan .
Momentum Hari Jadi Pamekasan ke 496, Bupati mengajak semua pihak memperkuat identitas budaya dan persatuan masyarakat dalam menjaga identitas Madura di tengah perubahan zaman, globalisasi dan perkembangan kehidupan masyarakat.
Diusia 496 tahun, bukan perjalanan singkat. Pamekasan telah melewati fase sejarah, perubahan jaman dan dinamikan kehidupan masyarakat. Namun ditengah perubahan tersebut kita memiliki satu kekuatan yang harus terus dijaga, yaitu identitas.
“Identitas ini tidak boleh hilang, termasuk bahasa Madura. Kepada pak Sekda cona diatur satu hari dalam satu minggu kita berbicara dalam bahasa Madura, karena anak-anak kita sudah banyak meninggalkan bahasa Madura,” ucapnya.
Ia mencontohkan, jangan seperti bahasa Babilionia. Bangsa Babilionia kehilangan identitas karena masuk komunitas arab, sehingga bahasa Babilionia di Irak sudah tidak dikenal lagi. Maka itu, bahasa Madura tetap Madura dari Indonesia.
Karenanya, malam ini bukan sekedar malam hiburan dan perayaan akan tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup bersama melainkan kekayaan yang harus kita buat sebagai kekuatan persatuan dan kesatuan.
Dihadapan mantan bupati, wakil bupati, Pj. bupati dan sekretaris daerah, serta pejabat, pimpinan perbankan dan pengusaha, disampaikan raihan penghargaan warisan budaya harta benda (WBTB) dari Kemendikbud RI, pengakuan atas kekayaan tradisi dan budaya Pamekasan untuk “Musik Daul”.
Sertifikat Kekayaan Intelektual atau HaKI dari KemenkumHAM Wilayah Jawa Timur, memberi perlindungan hokum atas karya dan kreatifitas masyarakat, serta penghargaan inovasi pembangunan pemerintahan yang kreatif, adaktif dan inovatif dari Badan Stategi Kebijakan Dalam Negeri di Kemendagri.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber