Surabaya (beritajatim.com) – Peserta ajang DiDi MeiMei Surabaya 2026, Kirana Anindyta Adelyne, mengusung toleransi antarbudaya. Remaja berdarah Jawa ini membuktikan kompetisi tersebut terbuka bagi semua kalangan.

“DiDi MeiMei bukan hanya untuk anak Tionghoa. Ini adalah kesempatan untuk semua anak Indonesia yang mencintai keberagaman. Kita boleh berbeda suku, tetapi tetap satu Indonesia,” kata Adelyne, Selasa (1/9/2026).

Pemahaman keberagaman tersebut tumbuh dari lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Margorejo Indah. Interaksi keseharian bersama masyarakat multietnis mendorong perempuan ini mempelajari tradisi Tionghoa tanpa kehilangan identitasnya.

“Saya ingin menjadi anak Indonesia yang bangga dengan keberagaman. Saya bisa menjadi anak Jawa yang mempelajari budaya Tionghoa, karena setiap budaya adalah kekayaan bangsa,” tutur Adelyne.

Semangat ini menurun dari kakeknya yang berprofesi sebagai hakim. Sang kakek pernah menyematkan nama Jawa kepada seorang anak keturunan Tionghoa agar mendapat hak pendidikan yang setara pada masa lalu.

“Saya mengajak teman-teman seusia saya untuk tidak takut mengenal perbedaan. Dari perbedaan tersebut kita bisa belajar banyak hal tentang rasa hormat dan persahabatan,” ujar peserta multitalenta ini.

Di atas panggung, ia mempresentasikan sejarah akulturasi budaya lokal di kawasan Kembang Jepun. Bakat menari dan menyanyi ia jadikan sarana menyuarakan persatuan bagi generasi muda.

“Saya adalah anak Jawa dan anak Indonesia. Saya bangga mempelajari berbagai tradisi dan akan terus konsisten melestarikan keberagaman ini di tengah masyarakat,” tutup Adelyne. [kun]

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *