
jatimnow.com – Sebanyak 3.235 pendaki gagal naik ke Gunung Semeru akibat penutupan karena penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pendaki tersebut sudah melakukan reservasi pemesanan secara online ke website resmi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) selaku pengelola pendakian ke Gunung Semeru.
Pranata Humas BB-TNBTS Endrip Wahyutama mengungkapkan, sejak penutupan pendakian ke Gunung Semeru hingga Ranu Kumbolo, sejak Rabu 26 Agustus 2026, sebanyak 3.235 pendaki baik warga negara Indonesia, maupun turis asing, gagal naik hingga 14 September 2026 mendatang. Sedangkan untuk 15 September hingga hari berikutnya, pengelola belum membuka kuota pendakian.
“Total sejak 27 Agustus sampai 14 September nanti ada 3.220 WNI, dan 15 WNA (Warga Negara Asing), itu sudah maksimal pengunjung, karena tanggal 15 September kuota belum kami buka,” kata Endrip Wahyutama, ditemui pada Selasa (1/9/2026) di Malang.
Dari jumlah tersebut sebanyak 1.217 orang merupakan pendaki lokal atau dari dalam negeri, sedangkan sisanya 18 orang merupakan turis asing mancanegara. Mereka disebut Endrip, diberikan pilihan antara pengembalian uang pemesanan 100 persen atau penjadwalan ulang ketika nanti pendakian dibuka.
“Pilihannya pengembalian reservasi 100 persen yang ditransfer ke rekening pemesan utama, atau penjadwalan ulang reschedule, tanpa dikenakan biaya tambahan,” ungkap dia.
Di sisi lain, Kepala BB-TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, hingga hari ketujuh luasan area yang terbakar kian meningkat. Bila sebelumnya titik api berada di sekitar Panggonan Cilik, Tanjakan Cinta, kini api sudah mencapai jalur pendakian ke Gunung Semeru pada Kalimati, Gunung Kepolo, hingga Ayak-ayak. Medan yang terjal, tiupan angin kencang, dan ketiadaan sumber air membuat api sulit dikendalikan.
“Pantauan kami masih ada titik api menyala di lokasi di atas. Ini sedang upaya dipadamkan karena memang kalau kita lihat lokasinya kan memang juga cukup jauh (dari sumber air), mencapai ke sana mobilisasi petugas pun membutuhkan waktu yang cukup lama,” ucap Rudijanta Tjahja Nugraha, saat dikonfirmasi pada Selasa (1/9/2026).
Petugas gabungan dari darat hanya bisa melakukan pemadaman dengan memukul-mukulkan titik api dengan ranting dan alat serta membuat sekat mengantisipasi kebakaran meluas. Proses pemadaman api dari udara dengan helikopter yang sempat dilakukan pekan lalu pun terpaksa dihentikan, karena helikopter digunakan untuk pemadaman kebakaran hutan di Kalimantan.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber