SIDOARJO Ponpes Manbaul Hikam Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur mengusulkan agar pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan pesantren dilakukan secara mandiri oleh pihak pondok.

Usulan tersebut disampaikan setelah ratusan santri mengalami keracunan usai mengonsumsi makanan MBG. Pengelolaan secara mandiri dinilai dapat memperpendek jarak antara proses memasak dan waktu makanan dikonsumsi, sekaligus memperkuat pengawasan kualitas makanan.

Ketua Yayasan Pesantren Manbaul Hikam, Abdul Wahid Harun, mengatakan pihaknya telah menyampaikan gagasan tersebut kepada pihak pemerintah.

Menurutnya, pesantren tidak menolak program MBG. Namun, mekanisme pengelolaannya perlu dievaluasi agar program yang dinilai positif tersebut tidak kembali tercoreng akibat persoalan dalam proses penyediaan makanan.

“Kami sudah tawarkan, monggo kalau seandainya mau meniru Malaysia dan Singapura, kelolakan dana itu kepada pesantren dimaksud biar quality control-nya aman,” kata Abdul Wahid saat menerima kunjungan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Ponpes Manbaul Hikam, Jumat (4/9/2026).

Ia menegaskan, pengelolaan oleh pesantren bukan berarti tanpa pengawasan. Kontrol tetap diperlukan, namun pelaksanaan di lapangan dapat dilakukan oleh pihak pondok.

Gus Wahid menyebut salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah jarak waktu antara makanan selesai dimasak dengan saat dikonsumsi para santri.

Menurut dia, jumlah makanan yang mencapai ribuan porsi membuat proses distribusi membutuhkan waktu. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan MBG di pesantren.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *