
jatimnow.com – Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Radius Setiyawan mempertanyakan arah pendirian Universitas Republik Indonesia (URI). Ia menilai belum terlihat peta jalan yang cukup jelas untuk menjelaskan posisi, fungsi, hingga orientasi kampus yang dikaitkan dengan pembentukan sumber daya manusia dan kepemimpinan nasional.
Pandangan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam diskusi publik bertajuk “Universitas Republik Indonesia & Kepemimpinan Nasional: Antara Rekayasa Elite & Demokrasi Kritis” yang digelar Ranggah Rajasa Indonesia (RRI) di Hanaka Social Space, Surabaya, Jumat (04/9/2026).
Menurut Radius, pembahasan URI perlu ditempatkan dalam konteks persoalan pendidikan tinggi Indonesia yang lebih luas. Salah satunya adalah meningkatnya jumlah pengangguran terdidik, termasuk lulusan sarjana.
“Persoalan pertama dalam konteks pendidikan kita adalah tidak terserapnya mahasiswa dengan tingkat strata tertentu dalam industri,” ungkapnya.
Ia menilai persoalan tersebut semestinya menjadi pertimbangan sebelum negara membangun institusi pendidikan tinggi baru. Sebab, penambahan kampus tidak otomatis menyelesaikan masalah apabila sistem pendidikan belum mampu menjembatani kebutuhan lulusan dengan dunia kerja.
Radius juga menyinggung wacana pemerintah menutup sejumlah program studi yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri.
Menurut dia, pendekatan semacam itu justru memunculkan pertanyaan mendasar: apakah perguruan tinggi yang harus terus menyesuaikan diri dengan industri, atau industri yang seharusnya ikut membangun ekosistem pendidikan.
Dalam melihat URI, Radius menyampaikan setidaknya tiga kekhawatiran. Pertama, berkaitan dengan kebebasan akademik dan posisi institusi yang dinilai berpotensi memiliki fungsi birokratis.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber