Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, KH Abdul Wahid Harun, mengusulkan agar pengelolaan penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) dilakukan lembaganya secara mandiri. Usulan ini muncul usai ratusan santrinya mengalami dugaan keracunan akibat MBG.

Gus Wahid mulanya berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian kepada pesantrennya di tengah insiden keracunan massal ini. Ia berharap peristiwa keracunan ini tak terulang lagi.

“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dari pemerintah pusat. Harapan kami kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Program yang sebenarnya baik jangan sampai ternoda karena kelalaian dalam proses,” kata Gus Wahid, Jumat (4/9).

Karena itu, Gus Wahid berharap pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat dilakukan secara mandiri oleh pihak internal pesantren, bukan lagi dipasok dari luar.

Usulan tersebut pun sudah disampaikan Gus Wahid kepada staf khusus kepresidenan. Menurutnya konsep tersebut terinspirasi dari sistem yang diterapkan di Malaysia dan Singapura, di mana dana program disalurkan ke lembaga, sementara pengelolaan dilakukan langsung oleh pesantren.

“Jadi bukan lagi makanan datang dari luar. Dana disalurkan ke lembaga, kemudian pondok sendiri yang mengelola. Ini sudah kami diskusikan dengan staf Wapres dan mendapat respons positif,” ujarnya.

Jika MBG dikelola secara mandiri, maka pesantren bisa mengontrol langsung proses masak hingga penyaluran makanan kepada para santri. Sehingga kualitas dan keamanan makanan bisa terjaga.

“Kalau jumlahnya 2.500 sampai 2.830 porsi, tentu kalau masak dari jauh kemudian dikirim, ada jeda waktu. Kalau kami kelola sendiri, porsinya terukur, masak langsung, konsumsi langsung. Risikonya bisa diminimalkan,” jelasnya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *