damarinfo.com — Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus mendorong percepatan pengembangan kawasan komoditas tebu. Pemkab menilai tebu memiliki potensi strategis untuk menopang kemandirian gula nasional sekaligus memacu kesejahteraan petani lokal.

Saat ini, Bojonegoro dibebani target perluasan area tanam tebu hingga 2.597,5 hektare. Langkah awal pun telah diayunkan dengan memetakan berbagai pemanfaatan lahan potensial.

Namun, mengurai data produksi tebu daerah ini memperlihatkan realitas lain: tantangan Bojonegoro tidak berhenti pada pemenuhan ketersediaan lahan semata. Masalah mendasar yang tak kalah krusial terletak pada angka produktivitas per hektare.

Rujukan data Jawa Timur Dalam Angka tahun 2026 mencatat, luas areal tebu di Bojonegoro melesat dari 2.930 hektare pada 2024 menjadi 3.809 hektare pada 2025. Hanya dalam kurun satu tahun, terdapat tambahan luas sebesar 879 hektare atau melonjak 30 persen.

Akan tetapi, laju kenaikan produksi justru tak berimbang. Pada periode yang sama, volume produksi tebu hanya merangkak dari 12.275 ton menjadi 13.503 ton—bertambah 1.228 ton atau sekadar tumbuh 10 persen.

Artinya, laju ekspansi areal berlangsung tiga kali lebih cepat ketimbang pertumbuhan hasil panennya.

Kesenjangan antara perluasan lahan dan hasil panen menjadi makin gamblang saat mengukur tingkat produktivitasnya.

Pada 2024, setiap hektare lahan tebu di Bojonegoro mampu menghasilkan sekitar 4,19 ton. Setahun berselang, capaian tersebut justru merosot menjadi 3,55 ton per hektare. Dengan kata lain, tingkat produktivitas tergerus hingga 15,4 persen.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *