Blitar (beritajatim.com) – Kebijakan pembukaan kawasan Wisata Edukasi Makam Bung Karno (MBK) Kota Blitar selama 24 jam nonstop memicu kekagetan di kalangan pelaku usaha dan pedagang lokal.

Menanggapi riak tersebut, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin menyampaikan permohonan maaf atas minimnya sosialisasi di tahap awal, sekaligus menyiapkan sejumlah strategi penataan kelola kawasan.

“Tentunya MBK 24 jam ini kan hal baru, jadi banyak yang kaget. Saya atas nama pemerintah daerah memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak karena kurangnya sosialisasi di awal,” ujar Wali Kota Blitar pada Senin (7/9/2026).

Pria yang akrab disapa Mas Ibin itu menjelaskan bahwa skema pembukaan 24 jam dirancang untuk memberi keleluasaan bagi peziarah dari dalam maupun luar negeri. Inovasi ini pun telah mendapatkan restu dari keluarga Bung Karno yakni Megawati Soekarnoputri.

Berdasarkan data Pemkot Blitar, pada paruh pertama Agustus, angka kunjungan malam baru menyentuh angka 2.000 orang, sementara kunjungan siang mencapai 18.000 orang. Kondisi transisi ini dinilai membuat sebagian pelaku usaha belum merasakan dampak ekonomi secara merata.

Untuk mengurai persoalan tersebut, Pemkot Blitar menyiapkan skema pembagian jam kerja (shift) bagi para pedagang agar tidak perlu berjualan penuh selama 24 jam.

“Pedagang tidak harus berjualan 24 jam penuh. Kita atur persentasenya, misal 10 hingga 20 persen buka di malam hari secara bergiliran atau diundi. Dengan begitu, potensi pembeli dari peziarah malam tetap tertangkap tanpa membebankan pedagang,” jelasnya.

Pemkot Blitar menargetkan lonjakan kunjungan peziarah hingga dua kali lipat melalui skema operasional baru ini. Jika rata-rata kunjungan tahun lalu berada di angka 18.000 orang per bulan dan meningkat menjadi 24.000 orang per bulan pada tahun ini, maka target berikutnya dipatok menembus 50.000 pengunjung per bulan.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *