JEMBER, KOMPAS.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember, Jawa Timur, menyiapkan skema work from home (WFH) dan pembelajaran daring jika antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) semakin panjang.

Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan, pihaknya telah menyiapkan skema antisipasi jika antrean terus memanjang dan mengganggu mobilitas harian warga.

“Kebijakan darurat, seperti imbauan kerja dari rumah (work from home/WFH) hingga pembelajaran secara daring, siap diterapkan jika situasi mendesak,” ujarnya, Senin (8/9/2026), dilansir dari Antara.

Pantauan di lapangan, antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Jember masih panjang, bahkan tidak hanya BBM bersubsidi yang antre, namun antrean panjang juga terjadi untuk BBM nonsubsidi jenis Pertamax.

Pedagang eceran menjual satu botol Pertalite biasanya Rp 12.000, kini menjadi Rp 15.000 per botol, sedangkan Pertamax dengan harga Rp 18.000 per botol.

Bupati yang akrab disapa Gus Fawait mengatakan bahwa antrean kendaraan di sejumlah SPBU di kawasan Tapal Kuda, khususnya Kabupaten Jember, murni disebabkan oleh kendala distribusi, namun pasokan BBM secara nasional dan di Jember dipastikan aman dan tidak terdampak isu politik global.

“Hambatan teknis pada rantai pendistribusian pasokan BBM dari Depo Banyuwangi menuju Jember menjadi pemicu utama terjadinya antrean. Gangguan pada jalur distribusi itu tercatat telah terjadi sebanyak tiga kali dan berdampak pada beberapa daerah sekaligus,” terangnya.

Atas lambatnya penanganan serta mitigasi kendala pengiriman tersebut, Pemkab Jember telah menyampaikan protes resmi kepada Pertamina. Kendati demikian, pihak Pemkab Jember memilih berfokus pada solusi bersama daripada saling menyalahkan.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *