:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9343331/original/068215600_1788851620-MATERI_3__1_.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Beragam persoalan pendidikan, mulai dari akses beasiswa, sarana dan prasarana sekolah hingga masa depan anak penyandang disabilitas, menjadi pembahasan dalam program “Gesah Bareng Ambi Bupati” yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Rabu (2/9/2026).
Peserta yang hadir terdiri dari penggiat dan pemerhati pendidikan, mahasiswa, pelajar, akademisi, guru, orang tua siswa hingga pemangku kebijakan. Selain beasiswa dan fasilitas sekolah, pembahasan turut menyentuh pengawasan terhadap pelajar yang berada di luar sekolah pada jam belajar.
Ipuk mengatakan, forum tersebut menjadi salah satu cara Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendengar langsung persoalan yang berkembang di tengah masyarakat. Berbagai aspirasi yang diterima selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi dan penyempurnaan program pembangunan.
“PR kita masih banyak. Karena itu, kami senang mendapatkan banyak masukan dan ide dari masyarakat. Apa yang disampaikan di forum ini akan menjadi bahan untuk perbaikan program-program pendidikan ke depan,” kata Ipuk.
Salah satu isu yang mengemuka dalam forum adalah rencana regrouping SDN 1 Singonegaran. Ahmad Radiansyah, salah seorang wali murid, mengungkapkan kekhawatirannya mengenai dampak psikologis yang mungkin dirasakan anak-anak apabila kebijakan tersebut diterapkan.
Menanggapi aspirasi itu, Ipuk menyebut rencana regrouping masih dalam tahap kajian. Sejumlah pertimbangan menjadi bagian dari kajian tersebut, termasuk pengembangan RSUD Blambangan serta ketersediaan tenaga pendidik di Banyuwangi.
“Kalau nanti memang ada regrouping, kami akan memberikan ruang kepada siswa dan orang tua memilih sekolah yang akan dituju. Kami juga memastikan ada pendampingan dari guru selama proses adaptasi pindah sekolah. Yang terpenting, siswa tetap nyaman dan aman dalam belajar,” tegasnya.
Persoalan lain disampaikan Catur Bagus, pendidik dari SMPN 1 Singojuruh. Ia menyoroti masih adanya pelajar yang ditemukan berada di luar lingkungan sekolah ketika jam efektif belajar berlangsung. Keterbatasan tenaga disebut menjadi salah satu kendala dalam melakukan pengawasan.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber