:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jatim/foto/bank/originals/pekerja-memilih-dan-menata-tembakau-Kasturi-di-Dusun-Krajan.jpg)
TRIBUNJATIM.COM, JEMBER – Tanaman tembakau di Kabupaten Jember ikut dipengaruhi musim kemarau berkepanjangan dengan cuaca panas dan berangin.
Hal itu dialami beberapa petani tembakau di Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, yang mengeluhkan tanaman tembakau mereka rusak.
“Daunnya keriting, tidak bisa dipanen. Ini karena cuaca panas dan berangin,” ujar petani tembakau di Dusun Krajan, Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Sujai, Jumat (11/9/2026).
“Angin panas, angin panas, begitu terus. Karena kemarau, pengairan di sawah juga sulit,” imbuhnya.
Sujai menanam 6.500 pohon tembakau, dari jumlah tersebut, seperempat di antaranya rusak dan tidak bisa dipanen.
“Kalau harga mungkin tidak jauh dari tahun lalu, berkisar Rp7 juta per kuintal,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dusun Krajan, Ruliyati, yang juga menanam tembakau mengakui, musim panas tahun ini membuat tanaman tembakau ada yang rusak.
“Karena waktunya nurap (mengairi sawah dalam Bahasa Madura) tidak bisa nurap. Airnya datang setiap 15 hari sekali. Musim kemarau ini sulit air,” imbuhnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber