Blitar (beritajatim.com) – Pelataran Istana Gebang, Kota Blitar, menyajikan pemandangan yang tak biasa pada Sabtu (12/9/2026). Di kawasan bersejarah tersebut, belasan jurnalis dari berbagai media bersama elemen pers mahasiswa Blitar Raya berkumpul dan duduk melingkar.

Tidak ada riuh sorak atau deru kamera memburu narasumber, yang ada hanya untaian doa yang mengudara khusyuk demi keselamatan lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang kontak di Selat Sunda.

Aksi solidaritas ini lahir dari keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa para insan pers saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Senin (7/9/2026) lalu. Tampak pula perwakilan anggota Polres Blitar Kota yang turut duduk bersila, memberikan dukungan moral sekaligus mengawal kekhusyukan kegiatan.

Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika para peserta melepas dan menggantungkan kartu pers mereka. Sebuah gestur simbolis yang menyuarakan pesan tegas, yakni tugas peliputan memang mulia, tetapi tak ada satu pun karya jurnalistik yang seharga dengan nyawa.

“Aksi ini adalah bentuk dukungan moral kami kepada keluarga korban dan tim SAR yang sampai detik ini masih berjuang di lapangan. Kami berharap kawan-kawan kami bisa segera ditemukan dalam kondisi selamat,” tutur Koordinator Aksi, Yoyok Agusta.

Bagi Yoyok dan jurnalis di Blitar Raya, musibah ini menjadi pengetuk kesadaran bagi seluruh pekerja media di Tanah Air. Di tengah ketatnya persaingan kecepatan informasi dan tenggat waktu, aspek keselamatan di area risiko tinggi sering kali terabaikan.

“Peristiwa ini bisa menimpa siapa saja di antara kita dalam menjalankan tugas. Ini pengingat keras bagi kita semua untuk tetap mengedepankan keselamatan. Tidak ada berita seharga nyawa,” tegasnya.

Hingga kini, tumpuan harapan masih disandarkan pada tim SAR gabungan yang menyisir perairan Selat Sunda. Lima jurnalis yang belum diketahui keberadaannya tersebut adalah:

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *