
Jombang, blok-a.com – Temuan mengejutkan kembali mengungkap kondisi kritis Kali Surabaya. Tim Sensus Ikan Kali Surabaya 2026, yang merupakan kolaborasi antara komunitas Nelayan Dusun Paras Desa Turi Pinggir (Kecamatan Megaluh, Jombang) dan Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi (Ecoton), menemukan fakta bahwa 80 persen populasi ikan di sungai tersebut berjenis kelamin betina.
Temuan ini terungkap setelah tim melakukan sensus intensif sejak Jumat (11/9/2026) hingga Minggu (13/9/2026). Proses sensus melibatkan penjelajahan sepanjang 11 kilometer, mulai dari Jetis Mojokerto hingga Jembatan Legundi di Gresik.
Dalam operasi tersebut, empat nelayan lokal bergabung dengan enam peneliti Ecoton. Mereka menggunakan dua perahu panjang (6 meter) dan satu perahu karet (5 meter), masing-masing berpenumpang dua orang, serta didukung oleh empat anggota tim darat yang menggunakan sepeda motor untuk memantau titik-titik tertentu.
Heri Purnomo, Peneliti Utama Ekosistem Air Tawar Ecoton, menjelaskan bahwa dominasi ikan betina ini bukan fenomena alamiah, melainkan indikator biologis dari pencemaran berat.
“Ada tiga faktor utama penyebab booming ikan berkelamin betina, yaitu paparan senyawa pengganggu hormon atau Endocrine Disruption Chemical Compounds (EDCs) yang terkandung dalam limbah,” jelas Heri.
Heri memaparkan bahwa pembuahan ikan terjadi secara eksternal di air. Ketika air tercemar zat kimia tertentu, tubuh ikan “tertipu” menganggapnya sebagai estrogen, sehingga memicu pembentukan kelamin betina secara massal. Berikut adalah sumber pencemaran utamanya:
Meski dalam kondisi tertekan, sensus berhasil mengidentifikasi sembilan jenis ikan yang masih bertahan hidup di Kali Surabaya, antara lain:
Menyikapi temuan ini, Ecoton menawarkan sejumlah solusi strategis untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati Sungai Brantas, khususnya Kali Surabaya:
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber