
Surabaya (ANTARA) – Papan pengumuman lowongan kerja selalu menghadirkan harapan. Di balik satu posisi yang ditawarkan, ada seseorang yang menunggu kesempatan, keluarga yang membutuhkan penghasilan, atau lulusan baru yang ingin menemukan pijakan pertama dalam kehidupan profesional.
Di Kota Surabaya, Jawa Timur, harapan itu kembali dibuka melalui “Mini Job Fair Surabaya Siap Kerjo” pada 16–17 September 2026. Pemerintah Kota Surabaya menyediakan 2.150 peluang kerja, terdiri atas 450 lowongan dalam negeri dan sekitar 1.700 peluang kerja luar negeri.
Pendaftaran dibuka secara daring mulai 16 September, sedangkan pelamar yang lolos seleksi administrasi dapat mengikuti wawancara pada 17 September.
Angka 2.150 tentu menarik perhatian. Apalagi jika dibandingkan dengan target Pemerintah Kota Surabaya menempatkan 8.838 tenaga kerja sepanjang 2026. Namun, jumlah lowongan tidak sama dengan jumlah penyerapan.
Lowongan hanyalah pintu masuk. Persoalan berikutnya adalah apakah pencari kerja benar-benar memperoleh pekerjaan, mampu bertahan, bekerja sesuai kompetensi, dan mendapatkan penghidupan yang layak.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angkatan kerja Surabaya pada Agustus 2025 mencapai 1,64 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka 4,84 persen, turun dari 4,91 persen pada 2024. Penurunan itu patut diapresiasi, tetapi belum cukup menjadi tanda bahwa persoalan ketenagakerjaan telah selesai.
Sebab, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak orang bekerja, melainkan pekerjaan seperti apa yang mereka dapatkan.
Pada Agustus 2025, sekitar 948 ribu orang atau 60,73 persen penduduk bekerja di Surabaya berada dalam kegiatan formal. Persentase itu turun 1,09 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, 80,01 persen pekerja berada di sektor jasa dan 19,79 persen di sektor manufaktur.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber