Surabaya (beritajatim.com) – Panggung Spektrum Sutasoma dibuka oleh keagungan Sri Raja Bajrajana yang sedang gundah. Putra mahkota Pangeran Sutasoma menolak takhta karena menganggap singgasana dibangun di atas “tumpukan tulang belulang”.

Sutasoma memilih ahimsa, jalan kedamaian. Istana ditinggalkan. Ia mengembara di hutan sekaligus memasuki ruang pencucian batin.

Hutan dalam pentas ini bukan sekadar rimba tempat bertapa. Ia menjelma menjadi metafora “hutan ego” manusia modern. Di sanalah masa lalu bertemu abad ke-21.

Tokoh-tokoh pengawal dan narator membawa satire tentang kehidupan manusia yang gemar mengenakan topeng kesucian, kedermawanan, bahkan korban di ruang media sosial. Kebaikan dapat dipertontonkan, pengorbanan dapat dikemas, dan kesalehan dapat menjadi citra yang dipertukarkan demi pengakuan.

Topeng menjadi penting karena manusia tidak selalu menampilkan wajah aslinya. Ada topeng untuk mencari pujian. Ada topeng untuk memperoleh pengakuan. Ada kebaikan yang kehilangan ketulusan karena sibuk mencuri perhatian orang lain.

Dalam pengembaraannya, Sutasoma bertemu berbagai bentuk kegelapan. Salah satunya adalah Raksasa Purusada, sosok raja pemburu manusia yang kelaparan. Pertemuan itu menjadi ujian atas keteguhan hati Sutasoma.

Sutasoma menyerahkan tubuhnya saat hendak dimakan. Ia tidak melawan dengan kebencian. Ia justru bersedia menyerahkan tubuhnya apabila hal itu dapat mengakhiri kelaparan Purusada.

Di sinilah kasih tanpa syarat menemukan bentuk paling ekstrem: memberi tanpa berharap kembali.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *