
Saya Mahasiswa Program Studi Akuntansi S1, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Pamulang, Banten, Indonesia
Musim kemarau tahun 2026 membawa persoalan serius bagi lingkungan di Jawa Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat sebanyak 14 kawasan gunung mengalami kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Hingga Selasa (15/9), penanganan masih dilakukan di lima lokasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran di kawasan pegunungan bukan lagi persoalan kecil yang bisa dianggap biasa.
Beberapa gunung yang terdampak antara lain Gunung Semeru, Arjuno-Welirang, Bromo, Buthak, Kawinajang, dan Argopuro. Kawasan tersebut dikenal memiliki hutan dan ekosistem yang penting bagi lingkungan. Ketika kebakaran terjadi, bukan hanya pepohonan yang terbakar, tetapi juga habitat berbagai hewan serta tumbuhan yang membutuhkan waktu lama untuk kembali pulih.
Musim kemarau memang membuat kondisi hutan menjadi lebih kering sehingga api lebih mudah menyebar. Namun, faktor alam bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Aktivitas manusia juga harus menjadi perhatian, seperti membuang puntung rokok sembarangan, membuat api di kawasan hutan, atau melakukan kegiatan yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan.
Menurut saya, banyaknya kawasan gunung yang mengalami karhutla harus menjadi peringatan bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas petugas pemadam atau pemerintah, tetapi juga tanggung jawab masyarakat. Hal sederhana seperti tidak membuang benda yang dapat memicu api dan tidak membuat api sembarangan di kawasan hutan bisa membantu mencegah kebakaran.
Dampak karhutla juga tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Hutan yang terbakar dapat mengalami kerusakan ekosistem, tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi, dan kemampuan lingkungan dalam menyimpan air dapat berkurang. Jika kerusakan semakin luas, masyarakat di sekitar kawasan gunung juga bisa ikut merasakan dampaknya.
Penanganan lima lokasi yang masih terbakar tentu membutuhkan kerja sama dan keseriusan. Petugas perlu bergerak cepat untuk mencegah api semakin meluas, sementara masyarakat di sekitar kawasan terdampak harus ikut menjaga kondisi lingkungan dan melaporkan apabila menemukan titik api.
Karhutla di kawasan gunung Jawa Timur seharusnya tidak hanya menjadi berita yang ramai selama kebakaran berlangsung. Kejadian ini perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pencegahan, pengawasan, edukasi masyarakat, dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber