
Milenianews.com – Kajoetangan di Kota Malang merupakan cerita sukses mengenai pengubahan kawasan pemukiman perkampungan tradisional menjadi kawasan wisata yang ramai pengunjung. Area Kajoetangan telah dikembangkan dan ditata ulang, sehingga dapat dikatakan sebagai lokasi yang mempresentasikan perjalanan sejarah kolonial di Kota Malang. Di Kajoetangan, kita bisa melihat identitas kota—sebuah kawasan yang mengajak pengunjung menelusuri jalan dan lorong dengan berbagai bangunan bersejarah, kampung-kampung tua, serta catatan kota yang telah berkembang lebih dari satu abad.
Selamat datang di Malang, kota sejuk yang menyimpan banyak cerita budaya, tempat kulineran, dan jejak sejarah dari zaman Singasari sampai era kolonial. Kota ini berkembang pesat pada masa kolonial sebagai tempat favorit untuk peristirahatan dan pemukiman orang-orang Belanda di Jawa Timur. Karenanya, Kota Malang merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Timur.
Kota Malang menyajikan perpaduan antara kekayaan sejarah, keragaman budaya, kuliner yang unik, serta keindahan alam yang mempesona. Di Malang kita bisa berkeliling pada pagi ataupun sore hari saat udara masih segar untuk menikmati bangunan bersejarah dan kawasan heritage yang masih terawat. Perjalanan kemudian dapat dilanjutkan dengan mengunjungi museum, melihat kampung tematik, serta pusat-pusat kuliner dengan keunikan yang berbeda.
Saya ingin ke Kajoetangan, tetapi perlu mampir ke Alun-Alun Malang dan Masjid Agung terlebih dahulu. Dua lokasi ini tak jauh dari Kajoetangan, hanya sekitar 500 meter, dan sangat perlu dijadikan tujuan kalau ke Malang. Masjid Agung Jami’ Malang adalah nama resminya, salah satu ikon Kota Malang. Lokasinya strategis di pusat kota, bersebelahan dengan alun-alun. Masjid ini didirikan pada tahun 1890 dan diperluas pada tahun 1903. Hingga kini, bangunan utama masjid masih mempertahankan arsitektur asli bergaya gabungan Jawa dan Arab.
Berdirilah di depan masjid, lebih baik di seberang jalan di area alun-alun. Ciri arsitektur Arab dan Timur Tengah bisa dilihat dari keberadaan kubah serta menara—dua penanda visual arsitektur masjid yang umum di Indonesia. Kubah ini merupakan bangunan tambahan saat masjid diperluas, bukan dibangun sejak pertama kali berdiri. Menaranya menjadi tempat meletakkan pengeras suara dengan bentuk yang sangat khas Timur Tengah. Ragam kaligrafi Arab turut memperkuat desain interior bergaya Arab.
Sementara itu, ciri Jawa terlihat dari penggunaan atap tajug bertingkat pada bangunan utamanya yang menjadi ciri khas masjid tradisional Jawa. Di dalam masjid terdapat soko atau tiang utama yang berfungsi menopang struktur atap, sebuah ciri khas bangunan Jawa yang biasa dijumpai pada rumah-rumah besar dan masjid-masjid kuno Jawa.
Tidak ada kerepotan sama sekali menuju kawasan Kajoetangan Heritage karena letaknya persis di jantung Kota Malang. Jika Anda sedang di Alun-Alun Malang, tinggal melangkah sepelemparan mangkuk cwie mie. Jika sedang di Balai Kota, tinggal melangkah sedikit dan sebelum lelah sudah sampai. Lokasinya memang strategis, yang dahulunya merupakan pusat kegiatan bisnis, perdagangan, dan tempat berkumpulnya masyarakat.
Gerbang kawasan tertata baik dengan atap tradisional Malang berlapis genting. Pada papan merek yang apik tertulis “Kampung Heritage Kajoetangan”. Sedikit ke bawah, tersaji papan lebih kecil bertuliskan “Jalan Basuki Rahmat Gang 4”. Memang betul, kita masuk lebih ke dalam melalui lorong ini. Di bawah gerbang tampak becak motor terparkir tanpa pengemudi, mungkin milik penghuni lorong yang sedang beristirahat.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber