
Palang Merah Indonesia (PMI) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya memetakan kelompok masyarakat yang rentan terdampak panas ekstrem sekaligus wilayah yang memiliki paparan panas tinggi sebagai bagian dari penyusunan Rencana Aksi Panas atau Heat Action Plan.
Pungky Sugiarto Kepala Sub Bidang Penanggulangan Bencana PMI Kota Surabaya, mengatakan pemetaan dilakukan untuk mengetahui tantangan akibat panas ekstrem, kapasitas yang dimiliki kota, tingkat kerentanan masyarakat, hingga titik-titik yang memiliki paparan panas tinggi.
Untuk pemetaan wilayah, pihaknya menampilkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) periode 2019 hingga 2025 yang menunjukkan sejumlah kawasan menjadi perhatian karena memiliki suhu permukaan lahan maupun Heat Index yang tinggi, salah satunya kawasan padat bangunan dan minim vegetasi di Surabaya Pusat dan Utara.
Di kawasan tersebut, beberapa kecamatan seperti Sawahan, Bubutan, Simokerto, Tegalsari, Pabean Cantikan, Krembangan, dan Genteng memiliki Suhu Permukaan Lahan atau LST sekitar 42 hingga 43,4 derajat Celsius.
Sementara berdasarkan Heat Index atau suhu yang dirasakan tubuh, Sukomanunggal dan Pabean Cantikan menjadi wilayah dengan angka tinggi pada 2025 yang mencapai 34,7 derajat Celsius.
Pemetaan juga melihat wilayah yang mengalami peningkatan panas paling cepat, terutama di kawasan Barat dan Selatan seperti Lakarsantri, Wiyung, dan Sambikerep yang mencatat kenaikan Heat Index sekitar 0,36 hingga 0,41 derajat Celsius per tahun.
Joko Siswanto, Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Surabaya, mengatakan pemetaan kelompok rentan dilakukan secara lebih rinci dengan mempertimbangkan pekerjaan, kondisi kesehatan, hingga kondisi sosial masyarakat.
“Mulai dari ojol, kemudian petani, itu hasil diskusinya justru sampai sedetail itu,” ucapnya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber