Pamekasan, Gesuri.id — Peringatan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2026 tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk mengenakan busana batik, tetapi juga menjadi panggilan moral guna menggerakkan roda perekonomian para perajin dan pedagang. 

Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, menegaskan pentingnya keberpihakan nyata terhadap pelaku usaha batik, khususnya di wilayah Madura Raya.

Politisi Fraksi PDI Perjuangan dari Daerah Pemilihan Jawa Timur XI tersebut menilai bahwa kekayaan motif dan karakter kuat yang dimiliki oleh Batik Madura harus diimbangi dengan perluasan pangsa pasar. Menurutnya, kebanggaan mengenakan batik pada hari nasional harus sejalan dengan peningkatan kesejahteraan para pelaku usahanya di tingkat bawah.

“Jangan sampai kita hanya bangga memakai batik pada Hari Batik Nasional, tetapi para perajin dan pedagangnya justru kesulitan menjual produknya. Yang harus kita dorong adalah bagaimana batik Madura semakin laku, produksi meningkat, dan penghasilan para pedagang serta perajin ikut naik,” ujar Hj. Ansari di Pamekasan, Jumat (2/10/2026).

Ia menambahkan, pedagang memegang peranan krusial sebagai jembatan antara hasil produksi perajin dan konsumen akhir. Oleh karena itu, dukungan konkret seperti perluasan pasar, promosi berkala, pameran, digitalisasi pemasaran, hingga kemudahan akses pembiayaan mutlak diperlukan untuk menjaga keberlangsungan industri kreatif ini.

“Pedagang jangan hanya dijadikan pelengkap dalam setiap kegiatan batik. Mereka adalah bagian penting dari rantai ekonomi batik. Kalau pedagang ramai pembeli, perajin juga ikut bergerak. Dari situ ekonomi masyarakat tumbuh,” tegas legislator perempuan asal Pamekasan itu.

Lebih lanjut, industri batik di Madura sendiri memiliki karakteristik unik yang tersebar di empat kabupaten, yakni Bangkalan dengan ragam Batik Gentongan atau Batik Tanjung Bumi, Sampang dengan Batik Kotah, serta Pamekasan dan Sumenep yang dikenal sebagai sentra penghasil batik tulis dengan motif khas masing-masing. Keberadaan sentra-sentra ini dinilai vital dalam menjaga keberlangsungan ekosistem industri dari hulu hingga hilir.

Hj. Ansari berharap pemerintah daerah maupun berbagai pemangku kepentingan tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Momentum Hari Batik Nasional harus menjadi pintu masuk untuk memastikan keberlanjutan pasar batik agar tetap hidup sepanjang tahun.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *