
jatimnow.com – Bagi keluarga korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8, masa pencarian bukan hanya soal menunggu kabar. Ada kecemasan, kesedihan, dan ketidakpastian yang harus mereka hadapi setiap hari.
Kapal yang melayani rute Surabaya-Banjarmasin itu tenggelam di perairan Laut Jawa pada Minggu, 13 September 2026, setelah sempat hilang kontak. Sejumlah penumpang dan awak kapal hingga kini menjadi bagian dari proses pencarian dan identifikasi korban.
Di tengah situasi tersebut, keluarga korban yang berada di Pos Pelayanan Basarnas Tanjung Perak mendapat pendampingan psikologis. Tim dari Universitas Airlangga melalui Garda Ksatria Airlangga atau GARKA datang pada 17 hingga 18 September 2026.
Tim tersebut terdiri dari Dr dr Izzatul Fithriyah SpKJ(K), Koordinator Program Studi Spesialis Psikiatri UNAIR, bersama dua dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis, dr Winson Chuanardi dan dr Dhimas Himawan.
Dr Winson mengatakan, pendampingan dilakukan karena sebagian keluarga korban berada dalam kondisi emosional yang berat. Mereka datang ke pelabuhan dengan harapan mendapat kabar tentang anggota keluarganya, namun pada saat yang sama harus menghadapi kemungkinan terburuk.
“Pendampingan tidak dilakukan dengan pendekatan yang kaku. Tim lebih banyak mengajak keluarga berbicara, mendengarkan cerita mereka, serta memberi ruang untuk mengungkapkan perasaan,” ujar Dr Winson.
Ada keluarga yang menangis dan menceritakan kesedihannya. Namun ada pula yang lebih banyak diam karena belum mampu mengungkapkan apa yang dirasakan.
Menurut Winson, kondisi seperti itu merupakan respons yang wajar ketika seseorang menghadapi peristiwa traumatis, terlebih ketika nasib anggota keluarganya belum diketahui secara pasti.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber