Blitar (beritajatim.com) – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI) Blitar Raya menggelar Pendidikan dan Latihan Dasar (Diksar) untuk membekali generasi Z dengan nilai nasionalisme dan karakter Pancasila.

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Sasana Adhi Praja Kabupaten Blitar itu mengusung tema ‘Membentuk Pelajar Nasionalis dan Berkarakter Pancasila’

Diksar dirancang sebagai ruang kaderisasi untuk mengasah mental, daya kritis, tanggung jawab, dan kepedulian sosial para pelajar. Materi yang diberikan memadukan sejarah perjuangan bangsa dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan Gen Z, mulai dari sejarah organisasi, kesehatan mental, anti-perundungan, Marhaenisme digital, hingga penguatan nilai dasar kader.

Dalam sesi Profil dan Orientasi Organisasi, peserta diperkenalkan dengan sejarah GSNI yang berdiri pada 2 Januari 1959 melalui fusi Gerakan Siswa Nasional dan Ikatan Pelajar Nasional Indonesia. Materi tersebut juga memperkenalkan GSNI sebagai organisasi pelajar yang berpijak pada Pancasila 1 Juni, Marhaenisme, dan Sosio-Nasionalisme.

Empat pilar perjuangan organisasi turut diperkenalkan, yakni mengawal Pancasila dan UUD 1945, membangun kesadaran nasional, memperjuangkan kesetaraan akses pendidikan, serta membentuk pelajar yang kritis dan kreatif. Materi tersebut disampaikan Aryo Bimo Soebagio sebagai bagian dari orientasi organisasi.

Materi kesehatan mental dan anti-bullying kemudian dibawakan Putri Cinta Mei, S.Sos., M.A.P. Dia mengaitkan pemikiran Bung Karno dalam buku Sarinah (1947) dengan persoalan kesehatan mental dan perundungan yang dekat dengan kehidupan remaja.

Peserta juga diajak mengikuti games interaktif, writing healing melalui kegiatan ‘Surat untuk Sarinah’, hingga Challenge 7 Hari Anti-Kurungan. Materi diarahkan untuk mendorong peserta tidak menghambat potensi diri maupun orang lain serta menjadikan kepedulian terhadap kesehatan mental sebagai bagian dari perjuangan generasi muda.

Rangga Bisma Aditya, S.Sosio., M.H., membahas Marhaenisme dan relevansinya bagi Gen Z di tengah perubahan ekonomi digital. Dia mengaitkan konsep Marhaen dengan pekerja gig, kurir digital, hingga kreator muda yang memiliki alat kerja sendiri, tetapi tetap menghadapi kerentanan dalam sistem ekonomi digital.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *