Oleh:
Suko Widodo
Akademisi Universitas Airlangga dan Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia – Jawa Timur

Bayangkan Jawa Timur sebagai sebuah film panjang. Kameranya menyusuri pesisir Madura, melintasi pelabuhan Surabaya, mengarah ke kawasan industri Gresik, pesantren Jombang, sawah Mataraman, hingga masyarakat Tengger di sekitar Bromo, dan akhirnya sampai bertemu masyarakat Osing di Banyuwangi. Lebih dari 42 juta penduduk hidup dalam ruang sosial yang beragam, dengan pengalaman dan harapan yang tidak selalu sama.

Pada 12 Oktober 2026 nanti, Jawa Timur genap berusia 81 tahun. Peringatan ini patut dirayakan, tetapi lebih penting dijadikan kesempatan membaca perubahan, bagaimana masyarakat mengubah cara hidupnya, dan apakah pembangunan telah membuat mereka lebih siap menyongsong masa depan?

Salah satu cara menarik membaca perjalanan itu ialah menelusuri infrastruktur komunikasi yang digunakan masyarakat. Sebab, perubahan media bukan semata pergantian alat menyampaikan kabar. Di dalamnya tercermin perubahan cara orang membangun hubungan, memperoleh pengetahuan, mencari penghidupan, bahkan memahami dunia di sekitarnya.

Dari Panggung ke Algoritma
Jauh sebelum Jawa Timur menjadi provinsi, Surabaya telah melahirkan Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa yang terbit sejak 1933. Pers berbahasa daerah kala itu bukan hanya menyediakan bacaan, melainkan juga membuka ruang bagi gagasan, identitas budaya, dan percakapan masyarakat.

Radio kemudian menghadirkan pengalaman baru. Berita, musik, dan cerita dapat didengar bersama tanpa harus berada di tempat yang sama. Di warung kopi dan pos ronda, berita radio menjadi bahan percakapan bersama. Komunikasi masih banyak bergerak dari satu sumber menuju khalayak luas; warga terutama berperan sebagai pendengar dan penonton.

Ketika televisi memasuki rumah, pusat perhatian masyarakat ikut bergeser. Peristiwa yang jauh terasa dekat, dimana hiburan dan informasi menjadi bagian dari rutinitas keluarga.

Dalam dunia seni, Kartolo dan kawan-kawan memberi contoh yang membumi. Humor ludruk yang semula mengandalkan panggung kemudian hadir melalui kaset pada 1980-an, diputar di radio, dan belakangan beredar kembali di media sosial. Tradisi bertahan bukan karena dibekukan, melainkan karena menemukan cara baru menjumpai khalayaknya.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *