MALANG, MEMORANDUM.DISWAY.ID – Percepatan penurunan stunting tidak cukup hanya dengan mengejar angka prevalensi. Lebih dari itu, dibutuhkan kerja bersama untuk memastikan setiap anak Jawa Timur mendapatkan kesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Pesan tersebut mengemuka dalam Monitoring Evaluasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (PPPS) serta Pelaksanaan Aksi Konvergensi Kabupaten/Kota Semester I Tahun 2026 di Ruang Rapat Bakorwil Malang, Selasa 1 September 2026.

Kegiatan yang dibuka Kepala Bakorwil Malang, Asep Kusdinar, tersebut mempertemukan unsur Pemerintah Provinsi dengan sembilan Kabupaten/Kota di wilayah kerja Bakorwil Malang, yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kota Pasuruan, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kota Surabaya, dan Kabupaten Sidoarjo.

Forum ini menjadi momentum untuk tidak sekadar melihat “berapa angka yang sudah dicapai”, tetapi lebih jauh menjawab pertanyaan penting: apa yang masih menjadi persoalan, siapa yang harus bergerak, intervensi apa yang perlu diperkuat, dan langkah konkret apa yang harus dilakukan pada Semester II 2026.

Asep Kusdinar menegaskan, stunting merupakan persoalan pembangunan manusia yang dampaknya jauh melampaui persoalan pertumbuhan fisik anak.

“Stunting bukan semata-mata persoalan pertumbuhan fisik anak atau masalah gizi, tetapi merupakan persoalan pembangunan sumber daya manusia dalam jangka panjang,” tegas Asep.

Menurutnya, stunting dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan belajar, daya tahan tubuh hingga produktivitas. Karena itu, pencegahan harus dilakukan secara konsisten, terintegrasi, dan berkelanjutan.

Asep mendorong perubahan cara pandang dalam penanganan stunting. Intervensi tidak boleh hanya dilakukan ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *