:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Santri-Sidoarjo-Keracunan-MBG-2026.jpg)
TRIBUNNEWS.COMĀ – Koalisi masyarakat pemantau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), MBG Watch, memberikan tanggapan mengenai rentetan keracunan massal di berbagai daerah.
Anggota MBG Watch sekaligus pakar kebijakan kesehatan, Isnawati Hidayah, menilai rentetan kasus keracunan massal dari program MBG merupakan bukti tak terbantahkan dari kegagalan sistemik Badan Gizi Nasional (BGN) dalam menjamin keamanan pangan anak-anak sekolah.
Di Sidoarjo, Jawa Timur, lebih dari 500 santri dan siswa mengalami keracunan, sementara di Agam, Sumatra Barat, menimpa lebih dari 300 siswa dan guru.
Kasus keracunan MBG terbaru juga dilaporkan di Nganjuk, dan sebelumnya di Solo, Jawa Tengah.
“Jadi kami melihat ini adalah bukti tidak terbantahkan ya, kegagalan sistemik dari tidak mampunya BGN untuk memberikan makanan bergizi untuk anak-anak kita,” tegas Isnawati saat dihubungi Tribunnews.com, Rabu (2/9/2026).
MBG Watch mengkritik langkah penanganan yang diambil pemerintah saat ini, yang dinilai sekadar bersifat reaktif dan seremonial tanpa menyentuh akar permasalahan tata kelola pengawasan higienitas pangan.
“Catatan kritis yang kami berikan adalah respons pemerintah sekarang ini hanya seperti gimmick ya, dan sporadis atau reaktif,” ujar Isnawati.
Doktor alumnus Leiden University Medical Center (LUMC) Belanda itu juga menyoroti wacana pembekuan (suspend) operasional terhadap puluhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber