Liputan6.com, Jakarta – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya mendorong penguatan peran komunitas dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif di daerah. Hal itu disampaikan saat menghadiri Festival Mbois 11 bertema “Malang Menyala” di Kota Malang, Jawa Timur.

Menurut Teuku Riefky, festival kreatif dapat menjadi ruang untuk mempertemukan ide, talenta, pasar, hingga investor. Dengan begitu, karya yang dihasilkan tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi dapat terus dikembangkan dan memberikan nilai ekonomi.

“Festival seperti Mbois menjadi ruang bertemunya ide, talenta, pasar, dan investasi, agar karya tidak berhenti setelah festival, tetapi terus dikembangkan, dilindungi KI (Kekayaan Intelektual)-nya, dan dikomersialisasikan,” ujar Menteri Ekraf Teuku Riefky, dikutip Minggu (23/8/2026).

Ia menilai predikat Malang sebagai Kota Kreatif UNESCO bidang Media Arts bukan merupakan tujuan akhir. Status tersebut justru menjadi modal untuk terus mengembangkan talenta dan ekosistem kreatif di kota tersebut.

“Malang perlu terus menjaga regenerasi talenta dan memastikan Malang Creative Center (MCC) menjadi living ecosystem yang melahirkan kreativitas, kewirausahaan, lapangan kerja, serta dampak ekonomi bagi masyarakat,” Ucap Menteri Ekraf.

Festival Mbois 11 juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring antarkota kreatif sekaligus masuk dalam rangkaian Road to World Conference on Creative Economy (WCCE).

Pengembangan ekonomi kreatif di daerah juga mengacu pada Perpres Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rindekraf 2026–2045. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah pusat dan daerah berkolaborasi mengembangkan potensi ekonomi kreatif.

Program yang dikembangkan mencakup riset, pendidikan, pembiayaan, infrastruktur, pemasaran, insentif, hingga fasilitasi dan konservasi kekayaan intelektual.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *