Bojonegoro (beritajatim.com) – Karnaval desa dengan kemasan sound horeg semakin marak di Kabupaten Bojonegoro. Bagi sebagian masyarakat, dentuman perangkat audio berdaya besar menjadi hiburan yang dinanti sekaligus mendatangkan aktivitas ekonomi bagi warga di sekitar lokasi.

Namun, kemeriahan tersebut juga dibarengi pro dan kontra. Penggunaan sound horeg menjadi perhatian karena berkaitan dengan tingkat kebisingan, kenyamanan masyarakat, hingga sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur yang sebelumnya menyatakan penolakan terhadap aktivitas tersebut.

Sejumlah desa di Bojonegoro mulai mengemas kegiatan karnaval dengan konsep sound horeg. Di antaranya Cultural Carnival Desa Pucangarum, Kecamatan Baureno, Karangdayu Night Carnival, Pomahan Spectacular, serta Karnaval Sound Horeg di Desa Bayemgede, Kecamatan Kepohbaru.

Di Desa Bayemgede, kegiatan tersebut disebut lahir dari inisiatif anak-anak muda desa. Burhan, selaku humas penyelenggara, mengatakan konsep kegiatan telah dipersiapkan sejak September 2025.

“Ini murni gerakan anak-anak muda desa. Pihak Pemerintah Desa bersama Karang Taruna sebatas memfasilitasi,” terang Burhan saat dikonfirmasi, Senin (7/9/2026).

Panitia mengaku telah melakukan sejumlah persiapan agar kegiatan berlangsung tertib. Persiapan tersebut antara lain meminta persetujuan warga, berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan MUI setempat, serta mengurus izin keramaian kepada Polres Bojonegoro.

“Ya kami sudah melakukan prosedur yang menjadi syarat, kemarin ada banyak syaratnya dan alhamdulillah sudah terlaksana,” ungkapnya.

Sebanyak 12 armada sound system dari luar daerah didatangkan dalam kegiatan tersebut. Masing-masing perangkat disebut memiliki delapan subwoofer (shap).

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *