
Surabaya (ANTARA) – Air biasanya baru terasa sangat penting ketika alirannya berubah. Keruh, berbusa, berbau, atau tiba-tiba mengecil. Pada saat itulah masyarakat menyadari bahwa air yang tampak sederhana di ujung keran sesungguhnya bergantung pada sistem panjang yang memiliki banyak titik kerentanan.
Pengalaman Kota Surabaya, Jawa Timur, pada 6 September 2026 memperlihatkan betapa tipis jarak antara kualitas air baku dan ketenangan pelanggan. Busa dalam jumlah besar terdeteksi di Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Karang Pilang. Pemeriksaan kemudian mengarah pada air baku yang masuk ke instalasi dan diduga berkaitan dengan pencemaran Sungai Surabaya.
Respons cepat membuat persoalan itu dapat ditangani. Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PAM) Surya Sembada berkoordinasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) I untuk melakukan penggelontoran air, sementara pengendalian busa dilakukan di instalasi pengolahan. Produksi kemudian kembali normal. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kemampuan merespons gangguan tetap penting, tetapi pencegahan jauh lebih strategis.
Pertanyaannya bukan semata-mata seberapa cepat perusahaan mampu memulihkan keadaan setelah pencemaran. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah seberapa dini potensi gangguan dapat diketahui sebelum air baku memasuki instalasi.
Di titik inilah langkah PAM Surya Sembada meminta akses terhadap sistem peringatan dini milik PJT I menjadi penting. Direktur Utama PAM Surya Sembada Tias Alvin Papatria menyampaikan kebutuhan tersebut agar perusahaan dapat lebih cepat mengantisipasi kondisi darurat yang berpotensi memengaruhi kualitas air baku.
Peringatan dini bukan sekadar perangkat teknologi. Ia merupakan bagian dari tata kelola risiko. Informasi mengenai perubahan kualitas air dari hulu harus dapat diterjemahkan menjadi keputusan operasional, langkah pengamanan, dan komunikasi kepada pelanggan sebelum gangguan meluas.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber