
Intensitas yang lebih lemah dirasakan lebih luas lagi mencakup wilayah Bandung, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Malang, Bengkulu, Padang, Mentawai, Pariaman, dan Solok Selatan. Dari hasil pantauan BMKG hingga pukul 5, BMKG nihil mencatat adanya aktivitas gempa bumi susulan.
Dalam keterangan terpisah, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, menerangkan bahwa gempa deep focus (hiposentrum lebih dari 300 kilometer) seperti yang terjadi pagi ini memang sangat jarang memicu gempa susulan. “Gempa terjadi pada batuan litosfer samudra yang sangat homogen di kedalaman ratusan kilometer, pelepasan tegangan (stress release) cenderung terjadi secara total dalam satu peristiwa utama,” tuturnya.
Dijelaskannya pula bahwa gempa ini bukan dipicu oleh aktivitas sesar aktif, melainkan akibat patahnya batuan pada slab Lempeng Samudra Australia yang menunjam jauh ke bawah Laut Jawa. Proses deformasi batuan di dalam lempeng tersubduksi ini yang memberinya nama gempa intra-slab.
Karena kedalamannya itu, spektrum attenuasi gelombang melemah secara bertahap tetapi menjangkau area geografis yang sangat luas (dari Sumatra hingga Jawa Bagian Timur dan Kalimantan).
Daryono juga menjelaskan kenapa episentrum gempa berada di wilayah Laut Jawa sebelah utara Jakarta tapi getaran justru dirasakan lebih awal dan lebih kuat di Jawa bagian selatan, seperti Sukabumi. “Hal ini terjadi karena gelombang seismik merambat paling efisien melalui medium slab lempeng yang padat dan homogen menuju arah selatan sebelum menyebar ke permukaan,” kata doktor di bidang geografi dan pernah berkarir di BMKG hingga menduduki posisi Direktur Gempa Bumi dan Tsunami ini. ●
GEMPA tektonik dengan Magitudo 6,5 terjadi dari Laut Jawa, sekitar 69 kilometer arah timur laut Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Sabtu pagi, 12 September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menginformasikan kalau gempa yang terjadi pukul 04.23 WIB itu tak sampai berpotensi tsunami.
“Pusat gempa berada di kedalaman 368 kilometer atau tergolong gempa bumi dalam,” kata Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto dalam keterangan yang dibagikannya pascagempa itu, Sabtu pagi. Menurut Wijayanto penyebab lindu itu adalah aktivitas intraslab dengan mekanisme pergerakan geser turun (oblique normal).
Gempa kuat itu tak sampai memicu tsunami namun dampak guncangannya dirasakan sangat luas. Berdasarkan estimasi peta tingkat guncangan dan laporan masyarakat, guncangan gempa dirasakan terkuat pada skala IV MMI, yakni di Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur dan Tanggamus.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber