TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN – Musim kemarau panjang mulai memberikan tekanan serius terhadap kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. 

Persoalan paling terasa terjadi pada akses air bersih, terutama di kawasan dataran tinggi Bangkalan Utara.

Di sejumlah desa, warga harus mencari sumber air yang masih bertahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebagian warga terpaksa menempuh perjalanan hingga sekitar 2 kilometer sambil membawa jeriken dan harus mengantre dengan warga lain.

Kondisi tersebut terjadi setelah intensitas curah hujan di Bangkalan mulai berkurang sejak akhir Februari 2026. Memasuki pertengahan Mei, sejumlah sumur warga, khususnya di kawasan dataran tinggi Bangkalan Utara, mulai mengering.

Memasuki puncak kekeringan ekstrem pada Agustus-September 2026, dampaknya semakin meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan, hingga pekan pertama September, sedikitnya 25 desa telah terdampak kekeringan atau mengalami krisis air bersih.

Pemerintah Kabupaten Bangkalan pun terus melakukan distribusi bantuan air bersih. Sedikitnya dua unit armada tangki berkapasitas 5.000 liter dikerahkan setiap hari secara bergantian oleh BPBD Bangkalan, Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Sumber Sejahtera, dan Palang Merah Indonesia (PMI) Bangkalan.

Usulan permintaan bantuan air bersih dari sejumlah desa terdampak melalui kecamatan mulai masuk ke BPBD Bangkalan sejak pertengahan Juni 2026. Distribusi air bersih kemudian dimulai pada 3 Juli 2026.

Hingga pekan kedua September, pengiriman bantuan air bersih masih terus dilakukan. Jika pada pekan sebelumnya permohonan bantuan tercatat berasal dari 20 desa di tujuh kecamatan, jumlah desa terdampak kemudian bertambah menjadi 25 desa.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *