Jombang (beritajatim.com) — Ludruk yang lahir dan tumbuh sebagai bagian dari kebudayaan arek khas Jawa Timuran kini menghadapi persoalan keberlanjutan di tanah kelahirannya sendiri. Jejak kesenian yang memiliki sejarah panjang di Jombang itu perlahan semakin samar, sementara ruang bagi regenerasi, pembelajaran, dan pengembangan Ludruk belum menemukan bentuk yang kuat.

Persoalan tersebut menjadi kegelisahan yang diangkat Madjoemapan Films melalui film dokumenter pendek berjudul Anak yang Hilang, yang disutradarai Ahilla Kammala dan Donny Darmawan.

Dokumenter tersebut tidak sekadar merekam kehidupan para pelaku Ludruk yang masih bertahan. Anak yang Hilang juga menjadi pintu untuk mempertanyakan kembali keberadaan Ludruk di Jombang: ke mana perginya kesenian tersebut, mengapa semakin jauh dari generasi muda, dan terutama, di mana rumah bagi Ludruk di tanah kelahirannya sendiri?

Kegelisahan itu salah satunya muncul dari kondisi panggung perayaan HUT Pemerintah Kabupaten Jombang dalam dua tahun terakhir yang disebut masih sunyi dari irama kidungan dan lakon-lakon cerita rakyat Ludruk.

Situasi tersebut kemudian dipotret oleh kolektif sineas asli Jombang, Madjoemapan Films. Dalam proses pembuatannya, mereka menelusuri kehidupan Ludruk melalui dua kelompok yang masih eksis di Jombang, yakni Ludruk Budhi Wijaya dan Mustika Jaya.

Penelusuran tersebut kemudian diperluas dengan melihat kehidupan Ludruk di Surabaya melalui kesaksian Abah Kartolo. Dari proses tersebut, Madjoemapan Films menemukan perbedaan kondisi antara kehidupan Ludruk di Surabaya dan Jombang.

Ahilla Kammala menjelaskan, Anak yang Hilang memang lahir dari kegelisahan dan banyak pertanyaan yang muncul dari rekan serta jejaring kreatif segenerasinya mengenai seperti apa, bagaimana, dan ke mana perginya Ludruk di Jombang.

“Dari situlah, kami mencoba menelusuri jejak denyut nadi kehidupan Ludruk dan beberapa senimannya yang masih eksis hari ini melalui grup Budhi Wijaya dan Mustika Jaya. Melalui kesaksian pelaku Ludruk dari kedua grup tersebut kami juga telusuri lebih lanjut bagaimana kehidupan Ludruk di Surabaya melalui keterangan Abah Kartolo,” kata Ahilla.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *