Bojonegoro (beritajatim.com) – Pembangunan fisik Jalan Lingkar Selatan (JLS) Bojonegoro, Jawa Timur, ditargetkan baru dimulai pada 2028. Pemkab Bojonegoro akan memanfaatkan 2027 untuk fokus pada pengadaan dan pembebasan lahan yang menjadi bagian dari trase JLS sepanjang sekitar 16 kilometer.

“Pembangunannya masih nanti di 2028, karena 2027 kita tidak menganggarkan pembangunan, karena masih di pengadaan tanahnya,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (DPUBMPR) Bojonegoro Ivan Chusaifi, Senin (14/9/2026).

Saat ini Pemkab Bojonegoro mulai menyusun Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah (DPPT) melalui sosialisasi di sejumlah desa yang masuk dalam rencana trase JLS. Dokumen tersebut diperlukan untuk memastikan jumlah bidang tanah yang terdampak sekaligus mengetahui pemilik masing-masing bidang.

“Dari sosialisasi nantinya kita akan mendapatkan dokumen perencanaan pengadaan tanah. Biar pasti tanah yang terdampak itu berapa bidang dan yang memiliki siapa saja,” ujar Ivan.

Penyusunan DPPT berjalan paralel dengan sejumlah dokumen pendukung pembangunan JLS, yakni Detailed Engineering Design (DED), DED dua flyover, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), serta analisis dampak lalu lintas (Andalalin).

Ivan mengatakan pengadaan tanah akan dilakukan secara bertahap karena panjang trase JLS mencapai sekitar 16 kilometer. Hasil DPPT nantinya menjadi salah satu dasar untuk menentukan bidang tanah yang diprioritaskan dalam proses pembebasan.

“Dengan panjang 16 kilometer ini belum tentu selesai dalam waktu setahun. Tetapi dari DPPT bisa diketahui prioritas mana yang segera kita bebaskan,” katanya.

Pemkab Bojonegoro juga masih membuka kemungkinan penyesuaian trase apabila dalam proses perencanaan ditemukan objek yang berpotensi terdampak, seperti makam maupun tempat ibadah. Namun, secara umum trase tetap mengacu pada hasil studi kelayakan yang telah disusun.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *