
Pasuruan (beritajatim.com) – Titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Malang terdeteksi hanya sekitar 7 kilometer dari perbatasan Kabupaten Pasuruan. Kondisi tersebut membuat Polsek Nongkojajar bersama tim gabungan menyiagakan 29 personel untuk mengantisipasi api merambat ke kawasan hutan Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.
“Kami bersama tim gabungan menyiagakan personel di kawasan perbatasan untuk mengantisipasi agar perambatan api tidak menyeberang masuk ke wilayah Desa Ngadirejo. Kondisi sebaran titik api terus kami pantau secara ketat, terutama saat pergerakan angin berembus cukup kencang dari arah selatan,” kata Kapolsek Nongkojajar AKP Budi Luhur Sedjati.
Berdasarkan pantauan udara menggunakan drone Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), titik api pada koordinat -7.95951, 112.86546 masih terlihat menyala di kawasan Bukit Keciri. Lokasi tersebut secara administratif masuk Desa Taji, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.
Sebanyak 29 personel gabungan dikerahkan secara bergelombang untuk menyisir area rawan sekaligus membuat penyekatan di titik perbatasan. Personel tersebut terdiri dari unsur Polri, TNI, Satpol PP, Perhutani, PHPA, perangkat Desa Ngadirejo, serta relawan kebencanaan.
Kegiatan pencegahan diawali apel koordinasi bersama di Balai Desa Ngadirejo pada pukul 09.00 WIB. Selanjutnya, sekitar pukul 11.30 WIB, tim gabungan bergerak ke titik batas wilayah Kabupaten Pasuruan untuk memantau pergerakan asap sekaligus membuat penyekatan fisik di lapangan.
“Tim gabungan disiagakan penuh untuk mengantisipasi setiap potensi perluasan kebakaran liar agar tidak sampai menembus kawasan hutan Pasuruan. Hingga selesainya penyisiran sore hari, kami memastikan belum ada laporan api yang melompati batas wilayah Kabupaten Pasuruan,” tegas Budi.
Pemantauan garis perbatasan berlangsung hingga sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah itu, seluruh personel bergerak kembali ke kawasan Bukit Premium, Desa Ngadirejo, untuk melakukan konsolidasi.
Polisi memastikan kewaspadaan tetap ditingkatkan selama kondisi cuaca kering masih melanda kawasan pegunungan tersebut. Pemantauan juga dilakukan untuk mengantisipasi perubahan arah angin yang dapat memengaruhi pergerakan api maupun asap.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber