
“Kalau capek, istirahat sebentar dulu tidak apa-apa, terus lanjut lagi usaha. Yang penting kita harus yakin kalau kita itu bisa,” kata Eifie Julian Hikmah, atlet disabilitas asal Kediri, Jawa Timur, yang kini menjadi mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM).
Eifie bukan motivator tapi ia merasakan sendiri bagaimana usaha yang dilakoninya harus dua kali lebih besar dibandingkan teman-teman lainnya. Ambil contoh, untuk masuk ke salah satu kampus besar di Yogyakarta pun, ia harus menerima kegagalan lebih dulu. Tak hanya satu kali, Eifie gagal melalui beberapa jalur penerimaan mahasiswa baru.
Hingga pada akhirnya, Eifie diterima sebagai mahasiswa UGM melalui Penelusuran Bibit Unggul Tidak Mampu (PBUTM). Ia bahkan memperoleh subsidi UKT 100% dari UGM sehingga bisa berkuliah tanpa harus menambah beban biaya bagi ibunya.
Kisah tersebut menjadi babak baru bagi perempuan kelahiran Kediri, 23 Juli 2006, yang sejak kecil sudah berhadapan dengan keistimewaan di tangan kanannya.
Eifie lahir dengan kondisi disabilitas daksa. Saat sang ibu, Eny Nawangsih, pertama kali melihat putrinya setelah persalinan, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Sarung tangan bayi sebelah kanan yang sudah disiapkan Eny tidak dikenakan. Sang suami, Mochamad Farid, kemudian mengatakan bahwa ada kekurangan pada tangan Eifie. Kondisi tersebut sempat membuat kedua orang tuanya khawatir, terlebih ayah Eifie bekerja sebagai tukang kayu.
Nama Eifie Julian Hikmah pun memiliki cerita tersendiri. Menurut Eny, nama tersebut diberikan karena kelahirannya dianggap membawa banyak hikmah pada bulan Juli.
Memasuki usia tahunan, masa kecil Eifie tentu saja tidak sepenuhnya mudah. Ia pernah mendengar anak-anak di lingkungannya mengejek kondisi tangannya. Sebagai anak kecil, tangisan Eifie pun tak terbendung.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber