SURABAYA, KOMPAS.com – Kondisi perairan di sekitar Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tergolong dinamis saat insiden tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 terjadi pada Minggu (13/9/2026).

Sejumlah pakar lingkungan laut hingga peneliti riset atmosfer membeberkan analisis ilmiah mengenai kondisi hidrometeorologi, tinggi gelombang, hingga pergerakan arus laut di lokasi kejadian yang menghubungkan rute pelayaran Surabaya menuju Banjarmasin tersebut.

Kecamatan Masalembu yang terletak di Kabupaten Sumenep, Madura, selama ini populer dengan sebutan “Segitiga Bermuda Indonesia“.

Di balik julukannya yang penuh misteri, kawasan ini menyimpan sejarah panjang, keunikan kultur antarsuku, hingga penjelasan ilmiah di balik ganasnya gelombang perairan setempat.

Julukan Segitiga Bermuda Indonesia merujuk pada garis khayal yang menghubungkan Pulau Bawean, Kota Majene, dan Kepulauan Tengah di Laut Jawa, dengan perairan Masalembo berada tepat di dalamnya. Kepulauan Masalembu berada di titik persimpangan vital, yakni pertigaan Laut Jawa dan Selat Makassar.

Secara ilmiah, perairan ini sangat berbahaya karena menjadi titik temu dua arus besar. Dari arah barat, mengalir arus kencang yang memanjang ke Laut Jawa. Sementara dari Selat Makassar, terdapat arus utara yang bergerak akibat perbedaan suhu air laut. Pertemuan dua arus berbeda ini membawa material sedimen laut serta menciptakan perairan dalam yang berputar.

Selain itu, kawasan Masalembu dicurigai menjadi lokasi munculnya fenomena air pocket (kantung udara), yakni kondisi udara mengalir dengan kecepatan sangat tinggi. Pesawat yang melintas di atas titik ini berisiko tersedot ke bawah atau terpental secara mendadak.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *