
Mojokerto, blok-a.com – Memperingati empat abad kelahiran seorang ulama pejuang dari Gowa. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Jawa Timur bersama Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerjasama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan menggelar temu narasi bertajuk “Refleksi 400 Tahun Syekh Yusuf Al Makassari: Perkokoh Kebhinekaan Menginspirasi Zaman”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Majapahit, Trowulan, Mojokerto, pada Rabu (16/9/2026) ini bertujuan mengulik kembali ketokohan Syekh Yusuf sebagai simbol perlawanan kolonialisme dan moderatisme beragama.
Acara tersebut dibuka langsung oleh Kepala BPK Wilayah Jawa Timur, Sri Sugiharta, S.S., M.P.A.. Dihadiri oleh perwakilan Dinas Kominfo serta Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur, jajaran jurnalis dari Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang, serta sejumlah influencer. Hadir pula dua narasumber kunci, yakni KH. Ahmad Kholili Kholil dari Ponpes Cangaan Bangil, Pasuruan, dan Dr. Ahmad Ginanjar Sya’ban, Lc., M.Hum., filolog dan dosen pascasarjana FIN UNUSIA Jakarta.
Dalam sambutannya, Sri Sugiharta menekankan pentingnya promosi nilai-nilai sejarah dan budaya melalui tokoh-tokoh besar Nusantara. Ia mengingatkan bahwa Syekh Yusuf Al Makassari lahir di Gowa pada tahun 1626 Masehi dan merupakan sosok pahlawan yang tak kenal lelah dalam hijrah untuk menyiarakan agama sekaligus melawan penjajah Belanda.
“Beliau merupakan pahlawan yang selalu hijrah dalam penyiaran agama dan perlawanan dengan Belanda, hingga akhirnya diasingkan ke Afrika Selatan,” papar Sri Sugiharta.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kominfo Jatim, Putut Darmawan, S.E., M.M., menyatakan bahwa penokohan Syekh Yusuf perlu disejajarkan dengan Wali Songo di Jawa Timur sebagai bagian dari strategi komunikasi publik.
“Yang diinginkan dari kegiatan ini adalah teman-teman bisa bercerita bagaimana ini menjadi tempat komunikasi strategis kita untuk mengulik cerita Syekh Yusuf. Kita ambil narasi dari para ahli, lalu kita relitkan sesuai dengan karakteristik masyarakat Jawa Timur agar pesan kebhinekaannya semakin kuat,” ujar Putut.
Acara menjadi semakin mendalam dengan paparan dua narasumber yang melihat Syekh Yusuf dari sudut pandang berbeda, yakni spiritualitas dan historiografi global.
KH. Ahmad Kholili Kholil menyoroti Syekh Yusuf sebagai ulama besar, ahli tarekat, dan pahlawan nasional yang memiliki murid tidak hanya dari Nusantara. Ia menilai momen 400 tahun ini adalah waktu yang tepat untuk “melahirkan kembali” sosok Syekh Yusuf melalui kajian karya-karyanya.
Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber