Bondowoso (beritajatim.com) — Satu ton cherry kopi tidak berhenti sebagai satu ton produk akhir. Setelah melalui proses pengolahan, jumlahnya menyusut menjadi sekitar 150 kilogram green bean.

Pasca itu, jika disangrai menjadi roasted bean. Lalu ketika digiling menjadi kopi bubuk. Berat menyusut, nilainya meningkat.

Di berbagai bentuk itu terdapat proses, tenaga kerja, modal, pengolahan dan nilai tambah. Namun, sebagian kopi Bondowoso masih meninggalkan daerahnya dalam bentuk terlalu awal.

Petani menjual cherry. Pedagang membeli. Produk bergerak ke rantai berikutnya. Sementara pengolahan, branding dan produk siap konsumsi belum sepenuhnya berkembang di daerah asalnya.

Inilah salah satu persoalan yang hendak dijawab melalui gagasan Bondowoso Republik Kopi (BRK) Reborn.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menunjukkan produksi kopi green bean Bondowoso pada 2025 mencapai 8.913,84 ton. Arabika menyumbang 5.676,23 ton dari luas panen 13.754 hektare. Sementara robusta menghasilkan 3.237,61 ton dari luas panen 6.556,5 hektare.

Secara produksi, angkanya besar. Tetapi besarnya produksi tidak otomatis sama dengan besarnya nilai tambah.

Kepala Diskoperindag Bondowoso Hergiar Yuli Pramanto mengatakan pengembangan BRK harus melihat dua sisi sekaligus, yakni hulu dan hilir.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *