Jember, Jawa Timur (ANTARA) – Satu persatu siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Sumberanget di Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur, melepas sepatunya dan masuk musala dengan tertib, kemudian duduk bersila sambil mengatur jarak duduk dengan siswa lainnya karena kondisi ruangan yang agak sempit.

Mereka tidak sedang menunaikan ibadah shalat atau mengaji, namun bersiap untuk belajar bersama gurunya karena ruang kelas yang seharusnya ditempati untuk kegiatan belajar mengajar (KBM) mengalami kerusakan berat dan kini masih dalam proses perbaikan.

Dengan kondisi darurat dan duduk lesehan tanpa ada meja, sambil sesekali menyeka keringat yang menetes, para siswa tetap semangat belajar di tiga musala yang berada tidak jauh dari sekolah karena proses KBM harus tetap berjalan saat perbaikan sekolah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Jember.

Seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SDN setempat, Ardhiana Yuni Musthofa mengatakan proses pembelajaran tetap dapat berjalan secara kondusif dan tanpa kendala berarti, meski ruang musala terbatas dan terbilang sempit untuk KBM.

Untuk mengoptimalkan ruang musala, pihak sekolah memanfaatkan tiga musala berbeda yang tersebar di beberapa tempat yang lokasinya dekat dengan SDN Sumberanget 1, sehingga musala digunakan secara bergantian untuk anak-anak kelas 1 hingga 6 yang diatur dengan jam masuk sekolah tiap-tiap kelas.

Guna mengantisipasi keterbatasan kapasitas ruangan, waktu pembelajaran pun diatur dengan sistem pembagian jadwal antara kelas rendah dan kelas tinggi, sehingga siswa kelas rendah (kelas 1, 2, 3) masuk pada sesi pagi mulai pukul 07.00 WIB hingga 09.30 WIB, sedangkan siswa kelas tinggi (kelas 4, 5, 6) melanjutkan pada sesi kedua, mulai pukul 09.30 WIB hingga 12.00 WIB.

​Dengan pembagian jadwal dan pemanfaatan sarana alternatif, seperti musala, semangat belajar para siswa tetap terjaga. Keterbatasan fisik bangunan membuktikan bahwa ruang belajar sejatinya bukan hanya sebatas dinding kelas, melainkan di mana pun semangat menuntut ilmu itu dihidupkan.

Keterbatasan ruang musala yang kurang representatif itu disampaikan oleh siswa kelas 6 SDN Sumberanget 1, Debi Veronika Aisyah yang merasa kurang leluasa untuk bergerak karena ruangan sempit dan anak-anak harus membungkuk saat menulis di buku tulis yang diletakkan di lantai, tanpa ada meja lipat.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *