MALANG – Di tengah hamparan sawah Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur berdiri bangunan bata merah yang telah berusia lebih dari satu abad. Jembatan Talang Bululawang, yang dibangun pada masa kolonial Belanda, bukan sekadar peninggalan sejarah. Struktur ini masih menjalankan fungsi utamanya sebagai saluran irigasi yang menopang pertanian warga, meski fasilitas pendukung di sekitarnya kini tidak terawat.

Bangunan yang melintang di atas lembah Sungai Manten ini memiliki karakter berbeda dari jembatan pada umumnya. Alih-alih menjadi jalur penyeberangan, Jembatan Talang justru mengalirkan air melalui saluran di bagian atasnya. Dari lokasi, struktur bata merah tersebut masih berdiri kokoh, meski dindingnya ditumbuhi lumut dan catnya mengelupas. Pilar-pilar penyangganya tetap menopang saluran irigasi yang mengalirkan air ke persawahan.

Jembatan Talang Bululawang diperkirakan dibangun pada 1904–1905, menyusul pembangunan jembatan serupa di Kepanjen. Dalam bahasa Belanda, bangunan ini dikenal sebagai Waterbrug te Boeloelawang. Tingginya sekitar 50 meter, dengan panjang sekitar 100 meter dan lebar saluran air mencapai 3 meter. Konstruksinya ditopang lima pilar besar dan tujuh lengkungan khas arsitektur kolonial.

Keunikan lainnya terletak pada teknik pembangunannya. Struktur ini disebut menggunakan batu bata, kapur gamping, dan perekat dari getah pohon, bukan semen. Teknik tersebut menjadi salah satu karakter konstruksi lama yang masih dapat diamati pada bangunan ini.

Secara teknis, Jembatan Talang bekerja dengan memanfaatkan gravitasi dan perbedaan elevasi. Air dari saluran irigasi di sisi selatan dialirkan melintasi lembah melalui talang di atas lengkungan, kemudian diteruskan ke saluran di sisi utara. Sistem ini memungkinkan air mengalir tanpa bantuan pompa sekaligus menjaga aliran irigasi agar tidak bercampur dengan air Sungai Manten di bawahnya.

Keberadaan Jembatan Talang tidak dapat dipisahkan dari sistem irigasi Kedungkandang. Pembangunannya menjadi bagian dari kebijakan Politik Etis pemerintah kolonial Belanda, yang salah satu pilarnya adalah pembangunan irigasi. Infrastruktur tersebut dirancang untuk mendukung pengairan lahan pertanian dan perkebunan di wilayah Malang Selatan.

Jembatan ini memiliki kapasitas aliran hingga 100 liter air per detik. Air dari Bendungan Tangkil dialirkan melalui saluran tersebut untuk mengairi persawahan dan perkebunan tebu di wilayah Bululawang hingga Gondanglegi. Sistem irigasi itu juga menopang aktivitas Pabrik Gula Krebet, yang menjadi bagian penting dari perekonomian kolonial di Malang Selatan.

Pada masa lalu, jaringan irigasi ini menopang ribuan hektare lahan pertanian. Hingga kini, fungsi utama Jembatan Talang sebagai saluran air masih berjalan. Namun, kondisi kawasan di sekitarnya menunjukkan perubahan yang kontras dengan keberlanjutan fungsi teknis bangunan tersebut.

Sumber: Baca Selengkapnya di Sumber

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *